Bada Dan Para Rahwana

September 1, 2013 Leave a comment

Sudah sepatutnya Bada takut. Di hadapannya berdiri tiga orang yang bertubuh tiga kali lebih besar darinya. Tinggi dan kokoh, seperti tokoh antagonis Ramayana yang diceritakan Ibu sebelum ia berangkat tidur. Rahwana namanya.

Tiga Rahwana mencegat Bada ketika ia sedang bersenandung riang menuju sekolah. Di daerah persawahan yang sepi, tanpa rumah warga di sekelilingnya. Pagi, saat matahari masih bersinar malu-malu. Mereka meminta uang jajan Bada, tapi Bada tidak diberikan uang jajan oleh ibunya.

“Saya disiapkan bekal oleh Ibu. Saya tidak diberi uang jajan.” Begitu Bada berkilah ketika Rahwana yang paling besar tubuhnya meminta uang jajan Bada.

Rahwana-Rahwana tidak puas dengan jawaban itu. Mereka sulit percaya bahwa Bada tidak dibekali uang jajan. Anak ini pastilah berbohong, begitu pikir mereka. Maka Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya meninggikan suara. Suaranya menggelegar, ternyata meski tubuhnya paling kecil, suaranya mampu membuat Bada gentar.

“Periksa saja sendiri kalau tidak percaya.” Bada menyerahkan tasnya. Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya dengan segera mengambil tas Bada. Tidak sabar ia mencari. Membuka retlesting bagian besar tas Bada, dia mengobok-obok isinya, mengaduk-aduk.

Dua Rahwana lain tidak sabar melihat atraksi Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya. Mereka merenggut tas kemudian dengan jenaka, menurut penglihatan Bada, berebut untuk memeriksa tas Bada. Rahwana yang paling besar tubuhnya menang. Ia membuka retlesting lebih lebar hingga tas Bada menganga, mencari-cari namun tidak menemukan. Akhirnya ia membalik tas Bada hingga buku-buku pelajaran, tempat pensil, dan bekal makanan Bada serta botol minum kemasan yang diisi dari teko di rumah berserakan di tanah.

“Ah! Lama!” Akhirnya Rahwana yang tubuhnya tidak kecil tidak besar mengambil alih, ia memeriksa isi tas Bada, kosong. Semua isinya sudah berhamburan di hadapan Rahwana-Rahwana dan Bada. Hanya ada satu tempat yang belum diperiksa, bagian depan tas yang lebih kecil bentuknya, diretlesting dan retlestingnya dipakaikan gembok kecil. Gembok itu dapat dibuka dengan kombinasi tiga angka.

“Berapa kodenya?” Rahwana yang tubuhnya tidak kecil tidak besar bertanya. Suaranya lucu. Bada sempat tertawa dalam hati. Membayangkan tokoh kartun di hari minggu yang bisa jadi disulih suara oleh Rahwana setengah kecil setengah besar.

Bada menggeleng. Karena dia benar tidak tahu. Tas itu adalah tas bekas yang dibelikan Ibu di pasar loak tak jauh dari balai desa. Sejak dibeli, memang begitu bentuknya. Dan saat memakai tas itu, Bada tidak pernah menggunakan bagian yang terkunci. Bagian belakang cukup luas untuk menampung barang-barangnya. Untuk apa berusaha membuka bagian depan?

“Sungguhan. Saya tidak diberi uang jajan.”

“Bohong! Pasti ada di dalam sini!” Suara Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya semakin tinggi. Ia menunjuk bagian depan tas Bada yang dipamerkan Rahwana tidak kecil tidak besar. Wajahnya terlihat frustasi. Matahari makin tinggi dan sepertinya warga akan mulai melewati jalan antar desa ini.

Bada bingung bagaimana cara menjelaskannya bahwa ia sungguh benar tidak diberikan uang jajan sehingga Rahwana-Rahwana ini tidak menganggunya lagi. Jarak ke sekolah masih setengah jalan, dan ia akan terlambat untuk hadir di kelas jika ia berlama-lama berurusan dengan Rahwana-Rahwana. “Rusak saja gemboknya. Saya juga penasaran apa isinya.” Akhirnya Bada berbicara.

Tiga Rahwana saling berpandanganan. Gagasan yang luar biasa berani dari seorang anak putih-merah yang sedang dipalak. Rahwana yang paling besar tubuhnya mengambil batu, kemudian dengan sekuat tenaga ia mencoba membuka -menghancurkan- gembok yang bergelantungan di retlesting bagian depan tas Bada. Tidak berhasil. Ia terus mencobanya hingga keringat membasahi kepalanya.

Dua Rahwana yang lain menunggu, menyaksikan temannya baku hantam dengan gembok di tas Bada. “Berapa tanggal lahirmu?” Tiba-tiba Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya bertanya kepada Bada yang sejak tadi juga takjub melihat kualitas gembok di retlesting tasnya.

“12 November.” Jawab Bada jujur.

Tanpa diperintah, Rahwana yang paling besar tubuhnya mencoba kombinasi 121, gagal. 112, gagal. Rahwana-Rahwana semakin kesal. Bada pun sebenarnya menunggu-nunggu agar gembok itu terbuka. Tapi jelas kombinasi ulang tahunnya tidak akan membantu.

“Kemungkinannya 999 kan? Mau dicoba satu-satu?” Bada memberanikan diri bertanya. Ia sungguh jadi penasaran. Dan itu membuat Rahwana-Rahwana kesal, karena Bada terlihat tidak terintimidasi.

Categories: Bada

Tahu Diri

July 9, 2013 2 comments

Ini adalah permintaan maafku karena diam-diam aku pernah berani bermimpi memilikimu.

Mimpi yang terlalu tinggi, tapi memang sebuah gagasan yang menyenangkan membayangkan kamu sebagai kekasihku. Maaf, aku kesulitan menolak berbahagia dengan pikiranku sendiri. Mungkin akan terdengar seperti sebuah pembelaan bila aku berkata bahwa kita sudah berbagi begitu banyak malam, sudah terlalu banyak cerita, terlau banyak impian, dan terlalu banyak cita-cita yang kita aminkan bersama yang akhirnya membuat aku berani untuk memimpikanmu menjadi kekasihku.

Bukankah cinta datang karena biasa? Dan memang salahku lah membiasakan diri berada di sisimu.

Kini sudah saatnya aku tahu diri bahwa mimpi itu tidak lah mungkin. Memang sepertinya lebih mustahil jika dibandingkan cita-citaku yang ingin menjadi penyair, cita-cita yang selalu kamu tertawai. Aku harus kembali memijak bumi dan menghentikan kesenanganku melukis langit. Demi kebaikanku, dan mungkin kebaikanmu.

Bisa jadi ini adalah caraku untuk undur diri dari kehidupanmu. Ternyata sakit rasanya melihatmu berbahagia. Ternyata hatiku tidak sebesar itu. Ternyata cinta harus memiliki. Karena itu, jangan mencariku lagi, demi apa pun. Mungkin ini kesempatan bagiku untuk menciptakan malam panjang yang lain bersama orang yang menginginkan aku sebagai kekasihnya. Yang mau menerimaku apa adanya. Yang mau memberikan segalanya bahkan tanpa aku pinta. Persis seperti yang dulu aku lakukan kepadamu.

Aku menyerah. Aku selesai menyiksa diri sendiri.

Usahakanlah untuk berbahagia sendiri tanpa mengajakku. Aku sudah ingin tidak peduli. Bantulah aku untuk berhasil dengan tidak terus hadir di hadapanku. Karena bukan suatu hal yang mudah bagiku untuk melihatmu terus menerus seperti ini. Kita tidak pernah bersama di saat kita bersama-sama. Cukup bagiku untuk mengerti bahwa memang bukan aku yang kamu cari.

Aku tahu diri.

Maka sekali lagi tolong maafkan aku yang pernah berani bermimpi memilikimu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Pergilah. Berbahagialah.

 

Perahu Kertas

 

PS: tulisan dibuat setelah ‘mabok’ mendengarkan Tahu Diri (OST. Perahu Kertas) yang dinyanyikan ulang oleh Tri Suhariyagi.

Bagaimana Bagaimana

Banyak bagaimana yang aku simpan sejak kepergianmu. Bagaimana-bagaimana yang tidak akan pernah aku temukan jawabannya karena itu hanya akan berakhir dengan tanda tanya.

Seperti, bagaimana jika kamu tidak datang sore itu? Apakah akan ada pertemuan lain yang membuat kita berjabat tangan dan saling menyebutkan nama?

Seperti, bagaimana jika kamu menjawab tidak atas pernyataan cintaku? Apakah akan ada kesempatan lain yang membuat kita menjadi sepasang kekasih?

Banyak bagaimana yang aku temukan sejak kepergianmu. Bagaimana-bagaimana yang membuat dadaku sesak karena tidak kunjung bermuara ke pusat jawaban.

Seperti, bagaimana jika aku lupa dengan hari ulang tahunmu? Apakah kamu akan memberhentikanku sebagai kekasih saat itu juga?

Seperti, bagaimana jika aku tidak menemanimu hingga kamu tertidur di malam hari setelah kamu menyaksikan film hantu? Apakah kamu akan berkata bahwa aku tidak ada di saat kamu membutuhkan?

Banyak bagaimana yang aku ciptakan sejak kepergianmu. Bagaimana-bagaimana yang enggan pergi dari pikiran dan membuatku mengambil peran sebagai orang gila di bumi ini.

Seperti, bagaimana jika aku tidak terlalu lelah hari itu, bagaimana jika aku tidak lupa mengabarimu, bagaimana jika benar jadi aku menjemputmu, dan bagaimana jika tidak ada pengemudi yang mabuk dan menabrakmu hingga mati malam itu.

Bagaimana jika satu dari banyak kejadian-kejadian itu tidak pernah terjadi? Apakah kamu akan tetap berada di sampingku sekarang?

Categories: Puisi(?)

Soleram, Cerita yang Tidak Pernah Diceritakan

Sabtu malam yang biasa, saat aku mengunjungi rumah kekasihku, terjadi satu pembicaraan yang seru. Di teras rumahnya, kekasihku bercerita tentang teman masa kecilnya yang bernama Soleram. Sama seperti kalian, aku langsung tertawa saat kekasihku menyebutkan nama itu. Soleram? Aku tidak percaya bahwa benar ada manusia yang diberkahi nama itu. Semua orang di negeri ini tahu siapa Soleram, si anak manis yang tidak boleh dicium.

Masih dengan tawa, aku pun bertanya kepada kekasihku, apakah pipi Soleram temannya itu berubah merah bila dicium? Tapi kekasihku tidak tertawa. Dia memukul pelan bahuku, kesal karena belum juga bercerita sudah dicela. Maka aku berusaha diam, mencoba memupuskan imajinasi bagaimana wajah Soleram yang pipinya merah, dan mulai mendengarkan kekasihku bercerita.

***

Saat itu aku masih duduk di Sekolah Dasar, kelas empat. Soleram adalah murid pindahan di sekolahku. Aku lupa bagaimana caranya aku bisa berkenalan dengan Soleram, yang jelas aku sempat tertawa mendengar logat Soleram. Kata guruku, Soleram berasal dari Sumatera, maka logatnya seperti itu. Walaupun sempat digoda dan dicela oleh teman-teman sekelasku yang nakal karena logatnya yang aneh, Soleram menanggapinya dengan santai, wajahnya penuh senyum, dia tidak pernah marah. Kalau aku di posisi Soleram, mungkin aku sudah menangis dan mengadu kepada guru dan orangtuaku.

Kenangan yang paling aku ingat tentang Soleram sebenarnya terjadi saat aku lupa membawa topi saat upacara bendera di hari Senin. Soleram yang melihat kegelisahanku mencari-cari topi berwarna merah memberikan topinya kepadaku. Aku sempat bingung, bila aku memakai topi Soleram, maka Soleram menggunakan topi siapa? Aku tidak mungkin membiarkan Soleram berdiri di depan lapangan upacara karena melakukan pelanggaran, tidak mengenakan topi saat upacara. Soleram belum genap dua bulan menjadi siswa di sekolahku saat itu.

“Aku kan Dokter, aku berdiri di barisan belakang, tidak memerlukan topi.” Dengan logat yang masih membuatku tertawa, Soleram menjelaskan.

Saat itu aku baru tahu bila sejak masuk ke sekolahku, Soleram sudah mendaftarkan diri menjadi dokter kecil. Terjawablah mengapa aku tidak pernah melihat Soleram di dalam barisan kelasku saat upacara berlangsung, selain aku juga tidak begitu memperhatikan.

Tak habis-habisnya aku berterima kasih kepada Soleram setelah upacara selesai dan kami kembali masuk ke dalam kelas. Sejak itu, aku menjadi akrab dengan Soleram. Aku suka mengajak Soleram ke kantin bila waktu istirahat tiba, walaupun kadang Soleram menolaknya dengan alasan membawa bekal dari rumah.

Naik ke kelas lima, aku duduk bersama Soleram. Soleram sungguhlah cerdas, dia masuk ranking tiga besar di kelasku dari caturwulan pertama hingga ketiga. Saat hari pendidikan nasional digelar di kantor walikota, Soleram menjadi salah satu delegasi perlombaan cerdas cermat dari sekolahku. Aku yang duduk sebagai pendukung saat perlombaan itu digelar bangga melihat temanku, teman satu mejaku, begitu pandai serta percaya diri menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan juri. Dan apakah kamu tahu? Sekolah kami menang! Soleram dan timnya, dua temanku yang lain, berhasil mendapatkan piala, membuat sekolah bangga.

***

“Juaranya dapet piala aja? Nggak dapet duit?” Aku bertanya jenaka, memotong kekasihku yang sudah mulai berapi-api menceritakan tentang teman sebangkunya sewaktu kelas lima.

Kekasihku tidak menjawab, dia malah mencubit perutku.

“Aww!”

“Ya lagian, lagi cerita kok dipotong?”

Aku berjanji tidak akan memotong pembicaraan kekasihku lagi. Cubitannya sakit.

Categories: Uncategorized

Kau Tidak Akan Pernah Tahu

January 15, 2013 Leave a comment

Kepada Kau,

Ini adalah surat kedua yang aku tulis untukmu, mungkin sekali lagi kau akan merobek amplopnya sebelum sempat melihat deretan huruf yang aku tulis di kertas ini. Tapi apa salahnya jika aku mencobanya. Sekali lagi.

Kali ini aku akan bercerita tentang hari di mana aku mengantarmu ke bandara. Kau ingat hari itu? Tanggal 10 Januari 2011, mantan kekasihmu meminta kehadiranmu di negeri seberang, memintamu membuktikan bahwa kau bersungguh-sungguh memintanya kembali ke dekapanmu. Jawaban atas pertanyaanmu ada di sana, maka aku antar kau ke bandara.

Saat itu masih gelap, suara adzan Subuh belum juga selesai berkumandang, tapi kau telah siap dengan beberapa potong pakaian yang dimasukan secara asal ke dalam tas kecilmu yang berwarna hitam. Tiket elektronik menuju Singapura sudah tersimpan rapi di telepon genggammu, yang kau beli beberapa menit setelah menerima kabar bahwa mantan kekasihmu menunggumu saat itu juga. Penerbangan paling awal jam setengah tujuh pagi, dan kau selamat, masih ada tiket yang bisa kau dapat.

Sepanjang perjalanan dari apartemenmu menuju bandara kita habiskan dengan sunyi. Aku menyetir dengan tekun, dan kau melamun. Tidak ada senyum di sana, sampai saat ini aku tidak pernah bertanya, apa yang kau rasakan pagi itu? Gelisah? Senang? Bingung? Atau mungkin kau sedang mempersiapkan skenario yang akan terjadi saat kau di Singapura? Aku tidak akan pernah tahu, karena aku tahu kau sudah membuang kertas ini ke tempat sampah –yang bila posisinya belum kau ubah- di salah satu sudut kamarmu yang menghadap kamar mandi.

Tapi kamu juga tidak akan pernah tahu, bahwa satu jam perjalanan itu membuatku gila. Aku sudah mempersiapkan beberapa adegan saat itu agar kau tidak sampai ke Singapura dan bertemu dengan mantan kekasihmu. Adegan pertama adalah aku membanting kemudi ke arah kiri saat mobil yang aku kendarai sedang berada di jalan layang menuju bandara, kita akan mati bersama setelah mobil menabrak pembatas jalan dan meluncur jatuh ke jalan yang berada di bawah. Atau kalaupun tidak mati, mantan pacarmu harus menunggumu siuman di rumah sakit, dan menerimamu apa adanya bila terjadi cacat dalam tubuhmu. Adegan kedua adalah aku akan menyatakan cintaku kepadamu saat mobil yang aku kendarai berada tepat di atas jalan layang yang memuat pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang baru terlihat setelah tidur tertutup langit gelap digantikan dengan timbunan halus cahaya matahari, berharap semoga itu bisa membuatmu mengurungkan niat untuk menemui mantan kekasihmu karena sudah ada aku yang bisa menyayangimu lebih dari padanya. Adegan berikutnya terlalu drama sampai aku sempat tertawa sendiri tapi kau tidak menyadari karena sibuk memikirkan apa yang akan terjadi nanti, yaitu saat sampai bandara aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat listrik di bandara mati sehingga semua penerbangan diundur jadwal keberangkatannya selama satu hari.

Dan seperti yang kau tahu, aku tidak melakukan ketiga-tiganya.

Karena sesampainya di bandara setelah kau check-in untuk mendapatkan nomor tempat duduk, kita sarapan di salah satu restoran cepat saji yang pelayannya kurang ramah karena sepertinya kurang tidur. Aku masih ingat apa yang kau pesan, karena itu hanya sebuah sup dan air mineral. Aku tidak memiliki nafsu makan, begitu katamu. Aku pun sebenarnya begitu, tapi aku tidak mungkin memperlihatkannya kepadamu, kau tetap memesan apa yang biasanya aku pesan, paket dua potong ayam dengan satu nasi lengkap dengan minuman soda yang berwarna merah. Aku sempat tersenyum ketika kau datang dengan nampan, menghampiriku yang sudah duduk menunggu dan meletakkan pesanan ‘biasa’ku ke hadapanku. Kau tahu apa yang mau aku pesan tanpa aku memesan kepadamu. Satu-satunya kebahagiaan yang aku raih hari itu.

Bagaimana jika dia menolakku, kau bertanya kepadaku saat aku baru akan melakukan suapan pertama. Jawaban jujur adalah, bagus, jadi aku masih bisa mendapatkanmu. Tapi kalimat yang keluar dari mulutku adalah, dia pasti akan menerimamu kembali, kau tenang saja. Lalu kau tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sunyi kembali datang, kita berdua makan dengan tenang. Sampai akhirnya waktu keberangkatanmu tiba. Kau berdiri, berpamitan kepadaku, lalu sebelum kau benar-benar masuk ke dalam daerah pemeriksaan tiket, kau melambaikan tangan, aku membalasnya.

Dan ini kejadian yang kau tidak akan pernah tahu, aku menunggumu di bandara sampai kau mengabariku apa yang terjadi di Singapura. Aku takut bila kau ternyata ditolak begitu saja oleh mantan kekasihmu setibanya kau di sana. Jangan-jangan dia hanya ingin membuatmu lebih menderita. Aku berpikir kau akan segera kembali ke Jakarta bila itu terjadi, maka aku menunggu, agar bisa mengantarmu pulang kembali ke apartemenmu. Tetapi setelah 24 jam tidak ada kabar darimu, aku berpikir bahwa kau sudah kembali dimiliki orang lain. Maka aku pulang.

Saat melewati jembatan layang, aku ingin sekali membanting kemudi ke arah kiri, biar aku mati.

Tapi kau tidak akan pernah tahu, karena surat ini sudah kau buang ke tempat sampah –yang bila posisinya belum kau ubah- di salah satu sudut kamarmu yang menhadap kamar mandi.

Menunggu Dini

October 16, 2012 2 comments

Malam kian temaram, dini sudah menanti.

Aku resah.

Aku sudah menunggumu di tempat kita berpisah.

Pantas aku rindu,

karena sudah enam purnama yang aku lihat tanpamu.

Cepatlah kau datang, kekasihku.

 

Aku rela menjadi kalah, bila ini permainan siapa yang lebih kuat menahan rindu.

Aku rela menjadi tunduk, bila ini permainan siapa yang lebih berkuasa.

 

Waktu seperti beku, detik tak terpetik.

Aku gelisah.

Di sini, di tempat biasa aku menjemputmu.

Persinggahan bagiku dan bagimu,

sebelum kita bersama-sama pulang, berangkulan.

Cepatlah kau datang, kekasihku.

 

Malam kian temaram,

tapi Dini belum tiba.

Categories: Uncategorized

Bila Rindu

Sekali lagi aku rindu.
Wajahmu sulit aku hilangkan dari hati.
Mengapa bayangmu selalu hadir?
Selalu berhasil mengisi kekosongan diri.

Sekali lagi aku rindu.
Suaramu tidak terbantahkan menggema telinga.
Mengapa kamu selalu beresonansi?
Selalu berhasil menyenandungkan cerita.

Bila rindu dinilai menggunakan deret hitung, maka rinduku tidak akan habis terhitung.
Bila rindu dijabarkan dengan deret aksara, maka rinduku tidak akan habis terbaca.

Sekali lagi aku rindu.
Sentuhanmu masih terasa menyengat kulit.
Tapi terasa, bukanlah nyata.
Hadirlah lagi dengan tegas.

Karena bila rindu dipadankan dengan alam semesta, maka rinduku tidak akan habis dipelajari manusia.

Kuta, 30 Juli 2012

Categories: Puisi(?)
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,457 other followers