Margonda, De Eerste Protestants Onderdaan Kerk

Kotaku bernama Depok. Sebuah kota yang akhirnya harus menjadi besar karena berbatasan langsung dengan ibukota negara, Jakarta. Kota yang seharusnya tenang karena, hey, bahkan bila kau tambahkan imbuhan pe- dan -an akan menghasilkan arti yang menenangkan, bukan? Menjadi tempat untuk menjernihkan pikiran atau bahkan untuk melakukan meditasi laiknya petapa yang mencari ilmu kebatinan.

Trivia: Depok sudah merdeka pada 28 Juni 1714, memiliki pemerintahan sendiri bahkan presiden yang dipilih setiap tiga tahun sekali oleh warganya.

Beban kotaku ini mungkin tidak seberat ibukota negara, namun percayalah, untuk masuk dan keluar Depok pada jam berangkat dan pulang kerja akan membuatmu sedikit frustasi. Hal yang sama pastinya berlaku bagi warga kota yang mengelilingi Jakarta, mereka harus melakukan commuting entah karena harus menuntut ilmu atau bekerja. Aku adalah salah satu yang melakukan commuting sejak Sekolah Menengah Atas karena kebetulan aku menuntut ilmu di Jakarta -sebenarnya ini terlalu dilebih-lebihkan karena sekolahku hanya terletak di Lenteng Agung, sebenar-benarnya perbatasan antara kota Depok dan kota Jakarta- sehingga aku harus menjalani kegiatan hilir mudik tersebut.

Dan tentu kalian tahu, atau kalaupun tidak pastilah pernah mendengar sebuah nama jalan yang hanya ditemui di kota Depok … Ya! Jalan Margonda. Jalan yang saat aku ketik di mesin pencarian Google hanya mengeluarkan satu hasil, jalan yang hanya dimiliki kota Depok. Jalan yang semua warga Depok yakini sebagai detak jatung kota, pusatnya. Di jalan ini kau bisa menemui markas besar pemerintahan kota Depok, Kepolisian Resor Kota, Terminal, dan Stasiun. Pusat perbelanjaan dari mulai Plaza Depok, ITC Depok, Depok Town Square, hingga Margo City berbagi alamat jalan yang sama, pun berbagai apartemen yang kini kian menjamur.

Jalan Margonda

Aku ingat, setiap pagi aku menumpang mobil ayahku, yang bekerja di Jakarta, untuk mencapai sekolahku. Kami biasa mendengarkan siaran radio sambil sesekali berbicara mengenai pembicaraan yang tidak penting selama kami menelusuri jalan Margonda, lalu biasanya akan menjadi pembicaraan penting ketika melewati Universitas Indonesia, kampus yang selalu dibesar-besarkan sebagai kampus terbaik di Indonesia itu memang salah satu kebanggan kota Depok karena letaknya yang berada di wilayah administrasi kota kami. Ya, saat itu siapa yang tidak mau berkuliah di Universitas Indonesia? Saat jalur masuknya hanya punya satu nama, SPMB. Biasanya ayahku akan bertanya mengenai pilihan jurusanku, menanyakan apakah yakin dengan pilihanku, menanyakan apakah persiapanku cukup untuk menghadapi ujian. Sampai akhirnya aku benar-benar resmi menjadi mahasiswa di Universitas tersebut.

Maka hubunganku dengan Margonda tidak lagi menjadi sekadar pengguna, aku sepenuhnya terikat dengan Margonda. Kau tahu, saat aku harus mengerjakan tugas kuliah, maka kosan temanku di apartemen Margonda menjadi pilihannya, jika bosan kami akan pindah ke tempat-tempat makan sekitar, juga di jalan Margonda. Tugas yang berhubungan dengan digital printing? Perkara mudah untuk menemukan kios yang bisa membantu. Belum lagi saat kami ingin menonton film-film keluaran terbaru dengan harga hemat di Depok Town Square atau menghabiskan uang di Starbucks Margo City hanya untuk terlihat bergaya atau ditraktir di D’Cost ITC Depok oleh teman yang berulang tahun. Bahkan kami juga pernah mencari dana dengan mengamen di jalan Margonda.

Saat aku menuliskan ini, aku terkejut betapa banyak kenangan yang aku lalui bersama jalan Margonda.

Ah, ya, Margonda juga menjadi saksi di mana aku bergandengan tangan dengan kekasihku, dan menjadi tempat di mana kami berdua memutuskan hubungan. Tapi cerita yang itu, mungkin akan kuceritakan di lain waktu.

Surat untuk Kelak

Kamu belum mengenalku, namun kupastikan aku akan selalu berada di peringkat keempat sebagai manusia yang paling peduli dan sayang kepadamu di dunia ini. Pertama kali aku bertemu mata denganmu, aku menyadari bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat kebahagianmu. Ketika aku memelukmu, aku tahu bahwa langit mengabulkan satu permintaanku: manusia yang bisa kucintai hingga aku mati. Hari di mana aku melihatmu memang begitu menakjubkan, kamu boleh tidak percaya, tapi aku seakan mampu mendengar alunan musik pengiring surga. Aku tahu para malaikat saat itu ikut tersenyum dan mulai mendoakan kebahagian kita. Kamu melengkapi hidupku, dan aku tidak bisa lebih bahagia lagi.

Namun, kamu akan membenciku. Meski sudah kujelaskan semua maksudku, kamu tidak mau mendengarnya. Kamu akan menangis, dan darahku mendidih karena tersulut amarah. Aku akan meneriakimu, memintamu untuk diam dan segera tidur. Setelahnya, aku akan merasa bersalah dan menangis dalam diam, seperti perintahku kepadamu. Suatu hari kelak, aku berharap kamu akan mengerti bahwa semua yang kulakukan saat itu adalah demi kebaikanmu, demi kesenanganmu. Aku akan berusaha semampuku untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang kamu bagi kepadaku, dan aku berjanji untuk menepati semua janjiku kepadamu.

Suatu sore kita pergi berdua mengunjungi taman, dekat sebuah pasar di mana aku senang mencari buku-buku tua. Kita duduk di pinggir kolam yang berisi banyak ikan koi sambil makan es krim, makanan yang sebenarnya tidak boleh kamu makan karena kamu sedang flu tapi aku tak tega melihat wajah memelasmu ketika melihat tukang es krim yang lewat. Saat itu kamu bercerita bagaimana kawanmu mampu mengerjakan tugas lebih cepat darimu dan mendapatkan pujian. Aku hanya tersenyum dan berkata bahwa ada saatnya kamu akan bersinar, mungkin tidak hari ini, tapi esok selalu menjanjikan hal baru, kamu hanya perlu berusaha lebih giat dari yang lainnya. Kamu terdiam karena masih kesal mengingat kejadian di mana kawanmu dipuji, namun akhirnya kamu mengangguk dan membuat sumpah bahwa kamu akan selalu berusaha semampumu dalam mengerjakan tugas. Aku tertawa melihatnya, kamu tidak mungkin bisa lebih menggemaskan dari hari itu. Kemudian kita pulang berjalan kaki dan kamu menggenggam tanganku erat sekali.

Mungkin aku bukan yang terbaik, dan di saat kebencianmu kepadaku memuncak, kamu akan menghadirkan imaji sempurna yang mampu menggantikan peranku dalam hidupmu. Di malam ketika kita sudah saling berpamitan dan kamu seharusnya tidur, kamu berdoa kepada Tuhan untuk mendapat pengganti sosokku. Kamu ingin seorang yang lebih lemah lembut, yang bisa memberimu izin bepergian dengan kawanmu hingga larut malam, atau bahkan menginap di sebuah kota yang jauh dari kota kita. Tapi semoga suatu hari kelak kamu akan menyadari bahwa saat kamu berdoa, aku tak mau kalah dengan juga berdoa kepada Tuhan agar aku menjadi lebih baik lagi dalam menjagamu. Kita berdua berlomba dalam doa. Aku tahu bahwa aku sudah memenangkan hati Tuhan karena mengkhawatirkan dirimu tanpa memedulikan sikap yang kamu berikan kepadaku.

Kamu lebih senang menghabiskan waktumu bersama kawan-kawanmu. Kita menjadi jarang  bertemu, jarang berbicara, dan jarang memerhatikan satu sama lain. Setiap kita bertukar pandangan, ada jarak tak kasat mata yang menahanku untuk mencium kedua pipimu atau bahkan sekadar memelukmu. Kamu berubah menjadi gadis paling cantik yang pernah kutemui dalam hidupku. Sesekali ketika kita keluar bersama untuk menghabiskan malam, kamu lebih senang menatap pesan-pesan yang tertangkap telepon genggamu meski makanan sudah dihidangkan dan kubilang kamu boleh memesan es krim sebanyak-banyaknya. Waktuku tidak begitu banyak tersisa, dan sebenarnya aku ingin sekali berlama-lama berbicara kepadamu meski kamu sudah tidak tahan untuk duduk dan berbicara kepadaku demi menghabiskan waktu.

Kesibukanmu kian bertambah. Tugas-tugas yang mengharuskanmu menginap entah di tempat kawanmu atau bahkan hotel yang kupesankan membuat kita tak lagi bisa bertatap muka setiap hari. Namun aku memaklumi karena aku tahu bahwa segala yang kamu kerjakan adalah demi masa depanmu, dan aku tidak boleh menghalanginya. Aku ingin kamu menjadi manusia yang berguna bagi sesama, atau setidaknya bagi dirimu sendiri, tidak merepotkan orang lain. Aku selalu memanjatkan doa untuk keselamatanmu, di malam-malam kamu mengerjakan berbagai pekerjaan, aku sibuk meminta malaikat-malaikat mengawasimu.

Lalu pada akhirnya aku tahu ada laki-laki lain yang sedang kau kagumi. Aku merasa cemburu, namun tidak bisa melakukan apa-apa kecuali kembali berdoa kepada Tuhan agar laki-laki itu memperlakukanmu sama baiknya sepertiku, bahkan lebih. Sampai akhirnya aku harus melepasmu pergi dengan laki-laki itu, aku selalu menganggumu dengan pertanyanyaan-pertanyaan tidak penting perihal kesehatanmu, kegelisahanmu, ketakutanmu, dan hal-hal yang kini sudah malas kau bahas denganku. Di akhir percakapan aku akan merasa bodoh karena kamu sudah memiliki pendamping hidup yang bisa menjadi tempatmu berbagi. Maaf, aku tidak bisa tidak memikirkanmu.

Jika suatu saat kamu menemukan surat ini, mungkin aku sudah tidak lagi ada. Tapi kamu tenang saja. Seperti janjiku, aku akan selalu menjadi manusia keempat yang paling peduli dan sayang kepadamu di dunia ini. Kamu hanya perlu meyakini itu, dan aku merasa cukup.

father daughter

Kisah Kekasihku

Kekasihku adalah seorang yang senang berlaku baik. Ia penuh kasih dan gemar membuat sekelilingnya tertawa bersama. Setiap langkah yang kekasihku jejak adalah demi kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Kekasihku selalu bangun lebih pagi, ia seakan memastikan matahari terbit di tempatnya dan berkata, “Hey, Matahari, berbaik hatilah kepada orang yang kusayangi.” Kekasihku selalu berusaha memenuhi keinginan mereka yang ia sayangi. Merasa kesusahan dan membenci dirinya sendiri ketika tak mampu mewujudkan impian mereka yang ia sayang meski itu bukan kesalahannya. Kekasihku memang begitu, ia tidak tega, ia tidak suka melihat yang lain tidak berdaya. Kekasihku pekerja keras, ia tidak suka berdiam diri di kamar dan tidur sepanjang hari. Ia selalu ingin melakukan sesuatu, membuat dirinya berguna bagi yang lain. Kekasihku memang tidak bisa diam, pikirannya selalu berputar ke mana-mana. Kadang ia memikirkan adiknya, lalu ia memikirkan kawannya, tanpa disadari ia memikirkan pekerjaannya, kemudian ia memikirkan pendidikannya, belum habis, ia memikirkan aku.

Kekasihku selalu peduli. Dan ia berulang tahun hari ini.

Kekasihku mencapai usia duapuluh lima, usia petaka. Usia di mana semua manusia tidak tahu apa yang perlu dilakukan, apa yang perlu ditinggalkan. Namun, aku tahu bahwa kekasihku cukup pintar untuk memilah mana yang terbaik untuknya, untuk masa depannya. Kekasihku senang sekali mengabaikan kondisi tubuhnya, meski lelah, kekasihku tidak mau melewatkan kehidupan yang terjadi, maka ia bepergian, ia mencari kemungkinan, ia melihat peluang, dan membuat sesuatu untuk merayakan kehidupan. Aku suka kesal saat kekasihku mengeluhkan apa yang di luar kuasanya, dan menganggap bahwa apapun yang ia pikirkan harus terjadi. Kekasihku seorang pemikir, namun ia selalu lupa memikirkan dirinya sendiri. Mungkin lain waktu aku harus mengingatkan bahwa ia juga berharga, bahwa ia juga bebas memilih untuk bahagia, untuk mengetahui bahwa ia kadang tak perlu memikirkan apapun selain dirinya sendiri.

Selamat ulang tahun, selamat menjadi perak, Kekasihku.

Semoga Tuhan selalu berbaik hati kepadamu dan malaikat-Nya senantiasa memanjatkan doa demi keselamatanmu. Mulailah mengerti bahwa hidup selalu menyenangkan, bahwa hidup selalu menawarkan warna yang bisa dicicipi.

Bada Dan Para Rahwana

Sudah sepatutnya Bada takut. Di hadapannya berdiri tiga orang yang bertubuh tiga kali lebih besar darinya. Tinggi dan kokoh, seperti tokoh antagonis Ramayana yang diceritakan Ibu sebelum ia berangkat tidur. Rahwana namanya.

Tiga Rahwana mencegat Bada ketika ia sedang bersenandung riang menuju sekolah. Di daerah persawahan yang sepi, tanpa rumah warga di sekelilingnya. Pagi, saat matahari masih bersinar malu-malu. Mereka meminta uang jajan Bada, tapi Bada tidak diberikan uang jajan oleh ibunya.

“Saya disiapkan bekal oleh Ibu. Saya tidak diberi uang jajan.” Begitu Bada berkilah ketika Rahwana yang paling besar tubuhnya meminta uang jajan Bada.

Rahwana-Rahwana tidak puas dengan jawaban itu. Mereka sulit percaya bahwa Bada tidak dibekali uang jajan. Anak ini pastilah berbohong, begitu pikir mereka. Maka Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya meninggikan suara. Suaranya menggelegar, ternyata meski tubuhnya paling kecil, suaranya mampu membuat Bada gentar.

“Periksa saja sendiri kalau tidak percaya.” Bada menyerahkan tasnya. Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya dengan segera mengambil tas Bada. Tidak sabar ia mencari. Membuka retlesting bagian besar tas Bada, dia mengobok-obok isinya, mengaduk-aduk.

Dua Rahwana lain tidak sabar melihat atraksi Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya. Mereka merenggut tas kemudian dengan jenaka, menurut penglihatan Bada, berebut untuk memeriksa tas Bada. Rahwana yang paling besar tubuhnya menang. Ia membuka retlesting lebih lebar hingga tas Bada menganga, mencari-cari namun tidak menemukan. Akhirnya ia membalik tas Bada hingga buku-buku pelajaran, tempat pensil, dan bekal makanan Bada serta botol minum kemasan yang diisi dari teko di rumah berserakan di tanah.

“Ah! Lama!” Akhirnya Rahwana yang tubuhnya tidak kecil tidak besar mengambil alih, ia memeriksa isi tas Bada, kosong. Semua isinya sudah berhamburan di hadapan Rahwana-Rahwana dan Bada. Hanya ada satu tempat yang belum diperiksa, bagian depan tas yang lebih kecil bentuknya, diretlesting dan retlestingnya dipakaikan gembok kecil. Gembok itu dapat dibuka dengan kombinasi tiga angka.

“Berapa kodenya?” Rahwana yang tubuhnya tidak kecil tidak besar bertanya. Suaranya lucu. Bada sempat tertawa dalam hati. Membayangkan tokoh kartun di hari minggu yang bisa jadi disulih suara oleh Rahwana setengah kecil setengah besar.

Bada menggeleng. Karena dia benar tidak tahu. Tas itu adalah tas bekas yang dibelikan Ibu di pasar loak tak jauh dari balai desa. Sejak dibeli, memang begitu bentuknya. Dan saat memakai tas itu, Bada tidak pernah menggunakan bagian yang terkunci. Bagian belakang cukup luas untuk menampung barang-barangnya. Untuk apa berusaha membuka bagian depan?

“Sungguhan. Saya tidak diberi uang jajan.”

“Bohong! Pasti ada di dalam sini!” Suara Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya semakin tinggi. Ia menunjuk bagian depan tas Bada yang dipamerkan Rahwana tidak kecil tidak besar. Wajahnya terlihat frustasi. Matahari makin tinggi dan sepertinya warga akan mulai melewati jalan antar desa ini.

Bada bingung bagaimana cara menjelaskannya bahwa ia sungguh benar tidak diberikan uang jajan sehingga Rahwana-Rahwana ini tidak menganggunya lagi. Jarak ke sekolah masih setengah jalan, dan ia akan terlambat untuk hadir di kelas jika ia berlama-lama berurusan dengan Rahwana-Rahwana. “Rusak saja gemboknya. Saya juga penasaran apa isinya.” Akhirnya Bada berbicara.

Tiga Rahwana saling berpandanganan. Gagasan yang luar biasa berani dari seorang anak putih-merah yang sedang dipalak. Rahwana yang paling besar tubuhnya mengambil batu, kemudian dengan sekuat tenaga ia mencoba membuka -menghancurkan- gembok yang bergelantungan di retlesting bagian depan tas Bada. Tidak berhasil. Ia terus mencobanya hingga keringat membasahi kepalanya.

Dua Rahwana yang lain menunggu, menyaksikan temannya baku hantam dengan gembok di tas Bada. “Berapa tanggal lahirmu?” Tiba-tiba Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya bertanya kepada Bada yang sejak tadi juga takjub melihat kualitas gembok di retlesting tasnya.

“12 November.” Jawab Bada jujur.

Tanpa diperintah, Rahwana yang paling besar tubuhnya mencoba kombinasi 121, gagal. 112, gagal. Rahwana-Rahwana semakin kesal. Bada pun sebenarnya menunggu-nunggu agar gembok itu terbuka. Tapi jelas kombinasi ulang tahunnya tidak akan membantu.

“Kemungkinannya 999 kan? Mau dicoba satu-satu?” Bada memberanikan diri bertanya. Ia sungguh jadi penasaran. Dan itu membuat Rahwana-Rahwana kesal, karena Bada terlihat tidak terintimidasi.

Tahu Diri

Ini adalah permintaan maafku karena diam-diam aku pernah berani bermimpi memilikimu.

Mimpi yang terlalu tinggi, tapi memang sebuah gagasan yang menyenangkan membayangkan kamu sebagai kekasihku. Maaf, aku kesulitan menolak berbahagia dengan pikiranku sendiri. Mungkin akan terdengar seperti sebuah pembelaan bila aku berkata bahwa kita sudah berbagi begitu banyak malam, sudah terlalu banyak cerita, terlau banyak impian, dan terlalu banyak cita-cita yang kita aminkan bersama yang akhirnya membuat aku berani untuk memimpikanmu menjadi kekasihku.

Bukankah cinta datang karena biasa? Dan memang salahku lah membiasakan diri berada di sisimu.

Kini sudah saatnya aku tahu diri bahwa mimpi itu tidak lah mungkin. Memang sepertinya lebih mustahil jika dibandingkan cita-citaku yang ingin menjadi penyair, cita-cita yang selalu kamu tertawai. Aku harus kembali memijak bumi dan menghentikan kesenanganku melukis langit. Demi kebaikanku, dan mungkin kebaikanmu.

Bisa jadi ini adalah caraku untuk undur diri dari kehidupanmu. Ternyata sakit rasanya melihatmu berbahagia. Ternyata hatiku tidak sebesar itu. Ternyata cinta harus memiliki. Karena itu, jangan mencariku lagi, demi apa pun. Mungkin ini kesempatan bagiku untuk menciptakan malam panjang yang lain bersama orang yang menginginkan aku sebagai kekasihnya. Yang mau menerimaku apa adanya. Yang mau memberikan segalanya bahkan tanpa aku pinta. Persis seperti yang dulu aku lakukan kepadamu.

Aku menyerah. Aku selesai menyiksa diri sendiri.

Usahakanlah untuk berbahagia sendiri tanpa mengajakku. Aku sudah ingin tidak peduli. Bantulah aku untuk berhasil dengan tidak terus hadir di hadapanku. Karena bukan suatu hal yang mudah bagiku untuk melihatmu terus menerus seperti ini. Kita tidak pernah bersama di saat kita bersama-sama. Cukup bagiku untuk mengerti bahwa memang bukan aku yang kamu cari.

Aku tahu diri.

Maka sekali lagi tolong maafkan aku yang pernah berani bermimpi memilikimu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Pergilah. Berbahagialah.

 

Perahu Kertas

 

PS: tulisan dibuat setelah ‘mabok’ mendengarkan Tahu Diri (OST. Perahu Kertas) yang dinyanyikan ulang oleh Tri Suhariyagi.

Bagaimana Bagaimana

Banyak bagaimana yang aku simpan sejak kepergianmu. Bagaimana-bagaimana yang tidak akan pernah aku temukan jawabannya karena itu hanya akan berakhir dengan tanda tanya.

Seperti, bagaimana jika kamu tidak datang sore itu? Apakah akan ada pertemuan lain yang membuat kita berjabat tangan dan saling menyebutkan nama?

Seperti, bagaimana jika kamu menjawab tidak atas pernyataan cintaku? Apakah akan ada kesempatan lain yang membuat kita menjadi sepasang kekasih?

Banyak bagaimana yang aku temukan sejak kepergianmu. Bagaimana-bagaimana yang membuat dadaku sesak karena tidak kunjung bermuara ke pusat jawaban.

Seperti, bagaimana jika aku lupa dengan hari ulang tahunmu? Apakah kamu akan memberhentikanku sebagai kekasih saat itu juga?

Seperti, bagaimana jika aku tidak menemanimu hingga kamu tertidur di malam hari setelah kamu menyaksikan film hantu? Apakah kamu akan berkata bahwa aku tidak ada di saat kamu membutuhkan?

Banyak bagaimana yang aku ciptakan sejak kepergianmu. Bagaimana-bagaimana yang enggan pergi dari pikiran dan membuatku mengambil peran sebagai orang gila di bumi ini.

Seperti, bagaimana jika aku tidak terlalu lelah hari itu, bagaimana jika aku tidak lupa mengabarimu, bagaimana jika benar jadi aku menjemputmu, dan bagaimana jika tidak ada pengemudi yang mabuk dan menabrakmu hingga mati malam itu.

Bagaimana jika satu dari banyak kejadian-kejadian itu tidak pernah terjadi? Apakah kamu akan tetap berada di sampingku sekarang?

Soleram, Cerita yang Tidak Pernah Diceritakan

Sabtu malam yang biasa, saat aku mengunjungi rumah kekasihku, terjadi satu pembicaraan yang seru. Di teras rumahnya, kekasihku bercerita tentang teman masa kecilnya yang bernama Soleram. Sama seperti kalian, aku langsung tertawa saat kekasihku menyebutkan nama itu. Soleram? Aku tidak percaya bahwa benar ada manusia yang diberkahi nama itu. Semua orang di negeri ini tahu siapa Soleram, si anak manis yang tidak boleh dicium.

Masih dengan tawa, aku pun bertanya kepada kekasihku, apakah pipi Soleram temannya itu berubah merah bila dicium? Tapi kekasihku tidak tertawa. Dia memukul pelan bahuku, kesal karena belum juga bercerita sudah dicela. Maka aku berusaha diam, mencoba memupuskan imajinasi bagaimana wajah Soleram yang pipinya merah, dan mulai mendengarkan kekasihku bercerita.

***

Saat itu aku masih duduk di Sekolah Dasar, kelas empat. Soleram adalah murid pindahan di sekolahku. Aku lupa bagaimana caranya aku bisa berkenalan dengan Soleram, yang jelas aku sempat tertawa mendengar logat Soleram. Kata guruku, Soleram berasal dari Sumatera, maka logatnya seperti itu. Walaupun sempat digoda dan dicela oleh teman-teman sekelasku yang nakal karena logatnya yang aneh, Soleram menanggapinya dengan santai, wajahnya penuh senyum, dia tidak pernah marah. Kalau aku di posisi Soleram, mungkin aku sudah menangis dan mengadu kepada guru dan orangtuaku.

Kenangan yang paling aku ingat tentang Soleram sebenarnya terjadi saat aku lupa membawa topi saat upacara bendera di hari Senin. Soleram yang melihat kegelisahanku mencari-cari topi berwarna merah memberikan topinya kepadaku. Aku sempat bingung, bila aku memakai topi Soleram, maka Soleram menggunakan topi siapa? Aku tidak mungkin membiarkan Soleram berdiri di depan lapangan upacara karena melakukan pelanggaran, tidak mengenakan topi saat upacara. Soleram belum genap dua bulan menjadi siswa di sekolahku saat itu.

“Aku kan Dokter, aku berdiri di barisan belakang, tidak memerlukan topi.” Dengan logat yang masih membuatku tertawa, Soleram menjelaskan.

Saat itu aku baru tahu bila sejak masuk ke sekolahku, Soleram sudah mendaftarkan diri menjadi dokter kecil. Terjawablah mengapa aku tidak pernah melihat Soleram di dalam barisan kelasku saat upacara berlangsung, selain aku juga tidak begitu memperhatikan.

Tak habis-habisnya aku berterima kasih kepada Soleram setelah upacara selesai dan kami kembali masuk ke dalam kelas. Sejak itu, aku menjadi akrab dengan Soleram. Aku suka mengajak Soleram ke kantin bila waktu istirahat tiba, walaupun kadang Soleram menolaknya dengan alasan membawa bekal dari rumah.

Naik ke kelas lima, aku duduk bersama Soleram. Soleram sungguhlah cerdas, dia masuk ranking tiga besar di kelasku dari caturwulan pertama hingga ketiga. Saat hari pendidikan nasional digelar di kantor walikota, Soleram menjadi salah satu delegasi perlombaan cerdas cermat dari sekolahku. Aku yang duduk sebagai pendukung saat perlombaan itu digelar bangga melihat temanku, teman satu mejaku, begitu pandai serta percaya diri menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan juri. Dan apakah kamu tahu? Sekolah kami menang! Soleram dan timnya, dua temanku yang lain, berhasil mendapatkan piala, membuat sekolah bangga.

***

“Juaranya dapet piala aja? Nggak dapet duit?” Aku bertanya jenaka, memotong kekasihku yang sudah mulai berapi-api menceritakan tentang teman sebangkunya sewaktu kelas lima.

Kekasihku tidak menjawab, dia malah mencubit perutku.

“Aww!”

“Ya lagian, lagi cerita kok dipotong?”

Aku berjanji tidak akan memotong pembicaraan kekasihku lagi. Cubitannya sakit.