I’m Not Ten …

Aku tidak diizinkan untuk menghadiri pesta ulang tahun temanku, bukan, bukan teman. Aku menyebut dia Ksatria. Kenapa? Karena dia membantuku saat aku tidak bisa mengerjakan tugas, lalu pergi begitu saja tanpa mau diberikan ucapan terima kasih. Karena dia terlihat acuh walaupun banyak teman-teman wanitaku yang menyukainya. Karena dia bukan berasal dari keluarga kaya raya tapi mau menyisihkan uangnya setiap ada bencana. Karena dia mampu memimpin semua teman-temannya baik laki-laki ataupun wanita menjadi satu suara. Jelas, dia Ksatria.

“Kenapa nggak boleh sih Ma?” Aku kembali merajuk, sudah lewat Maghrib. Pesta ulang tahun Ksatria akan diadakan tepat pukul tujuh malam. Aku tidak mau tidak terlihat disaat dia tertawa bahagia dikelilingi oleh teman-temannya yang sudah pasti menyayangi dia.

Mama mengecilkan volume televisi, lalu menghembuskan nafasnya. “Karena ini sudah malam sayang.”

“Terus kenapa Kakak nanti boleh keluar?”

“Kakak bisa menjaga dirinya sendiri.”

“Tuh Dek, dengerin.” Kakakku yang baru saja turun dari kamarnya berteriak dari arah tangga tepat dibelakang sofa tempat dimana aku dan Mama sedang berbicara, lalu dia ikut bergabung duduk diruang televisi. Kakakku menyebalkan, dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Mobil karena lulus SPMB, telepon genggam baru karena dia berulang tahun. Dan sekarang, dia diizinkan keluar sedangkan aku tidak? Ini hari Sabtu!

Akhirnya aku berdiri, kesal karena aku tidak akan bisa menang berargumen dengan Mama dan sekarang akan ditambah dengan Kakakku, bila Papa sedang tidak dinas diluar kota, lengkaplah sudah yang tidak mengizinkan aku keluar rumah malam ini untuk menghadiri pesta ulang tahun Ksatria.

Class In Motion by Amritsa Muhamad

Sesampainya dikamar aku menghempaskan tubuhku kearah kasur, aku mulai menangis tertahan. Ini benar-benar tidak adil. Aku seperti anak yang tidak diharapkan dikeluarga ini, semuanya diberikan kepada Kakakku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk diberikan kepercayaan oleh kedua orangtuaku. Aku terus menangis, dan kali ini aku biarkan tangisku pecah. Biar terdengar oleh seisi rumah, aku tidak peduli.

Setelah beberapa saat, akhirnya Mama masuk kedalam kamarku tanpa mengetuk pintu. Dia duduk disampingku dan mulai membelai rambutku yang panjang. “What’s going on, dear?”

Ada apa? Hello …  Mama nggak ngizinin aku pergi, dan sekarang nanya ada apa?

Aku meneruskan tangisku, mengacuhkan pertanyaan Mama yang malas aku jawab karena aku tahu kalau Mama sendiri sudah tahu jawabannya. Dia hanya ingin memulai pembicaraan.

“Kalau kamu pergi, nggak ada yang nemenin Mama dirumah.”

Ada Mbak Sri, Mama bisa nonton sinetron sama Mbak Sri kalo Mbak Sri udah selesai ngeberesin meja makan!

“Mama khawatir kalo kamu pergi malam-malam begini.”

Kalo gitu kenapa Mama nggak khawatir sama Kakak juga? Khawatirnya yang adil donk!

“Kamu kan masih kecil, nanti ada saatnya kamu Mama izinin untuk keluar malem.”

Aku tidak tahan lagi, ini sudah kelewatan. Menganggapku masih kecil adalah kesalahan, aku marah. Akhirnya aku bangun dari tidurku dan mulai menatap kearah mata Mama yang terus memperhatikanku dengan senyumnya.

“Mom, I’m not ten. I’m thirteen!”

4 thoughts on “I’m Not Ten …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s