Solitude Dialogue

“Kamu nggak kedinginan Han?”

Tanyaku sambil menggenggam termos yang berisi air panas dengan kedua tanganku berharap bisa menghilangkan rasa dingin. Sedangkan yang aku tanya hanya memandangku tanpa menjawab, sekarang dia malah melihat kearah lain. Lalu melihat kearah lain lagi, kemudian arah lain lagi. Tidak fokus. Aku biarkan saja dia melakukan kegiatan anehnya.

“Han, ini malam minggu, kok sepi yah?” Tanyaku sambil melihat sekeliling, kali ini aku melakukan apa yang tadi dilakukan oleh teman bicaraku. Ternyata dia selangkah lebih maju dibandingkan aku yang baru memperhatikan sekitar. Bahkan teman-temanku sesama pedagang tidak terlihat.

Taman Suropati begitu sepi walaupun ini malam minggu. Sudah habiskah orang-orang yang mau menghabiskan malam minggunya di taman kota? Atau memang sudah saatnya aku pindah tempat berjualan? Katanya didepan Museum Fatahillah selalu ramai pengunjung dimalam seperti ini. Tapi itu akan membuat pengeluaran ongkosku semakin besar. Dan bila disana ramai, pastilah penjual kopi sachet dan minuman hangat lainnya sepertiku lebih banyak. Persaingan lebih ketat.

“Kamu tuh nungguin siapa sih Han? Nggak pacaran?” Akhirnya aku kembali berbicara kepada satu-satunya teman bicaraku yang masih berada tepat dihadapanku. Dia kembali tidak menjawab, tatapan matanya yang begitu kosong membuatku malas untuk kembali berbicara, Tapi hanya dia temanku kini.

Aku mencoba untuk berpikir positif bahwa ini masih terlalu pagi, jam sembilan malam. Orang-orang yang bermain ke taman ini selalu diatas jam sepuluh atau sebelas malam setelah lelah dengan kebisingan mall-mall yang ada di tengah kota.

“Tapi apa iya? Sekarang kan sudah banyak minimarket yang buka 24 jam. Mesin-mesin yang langsung bisa mengeluarkan minuman hangat tersebar. Masih adakah yang mau minum dari gelas yang belum tentu tercuci dengan bersih dan gula yang beli di warung?” Aku berbicara sendiri, menjawab suara pikiranku. Han hanya terbatuk-batuk kecil mendengar keluhanku. Dan aku tidak mempedulikannya.

Night Night Heroes by Amritsa Muhamad

Sebenarnya ada beberapa orang di taman ini, tapi terlalu sepi. Mereka juga terpencar satu sama lain. Ada yang duduk disana, disana, disana, dan disana. Dan satu kesaman antar mereka adalah … mereka semua sendirian. Kemana mereka yang berpacaran? Kemana para teman-teman? Kemana keluarga yang kelaparan akan suasana nyaman?

Pikiranku terhenti saat beberapa mobil satpol pp melintasi jalan raya yang mengelilingi Taman Suropati. Aku bahkan belum sempat berpikir untuk lari saat seorang petugas menangkapku dari belakang. Burung Hantu teman bicaraku terbang tinggi meninggalkanku. Beberapa orang pengunjung taman memperhatikanku.

Sialan! Pantas saja teman-temanku tidak berjualan, ada razia malam ini!

2 thoughts on “Solitude Dialogue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s