Pasar Malam

Midnight Carnival by Amritsa Muhamad

Selamat datang! Mari melihat acara yang diadakan ditengah kota tapi terpinggirkan karena kebanyakan yang hadir adalah masyarakat yang oleh masyarakat menengah atas disebut kalangan bawah. Hiburan yang nyata namun seperti tidak ada harganya sekarang, melihat seseorang berakrobat atau melemparkan pisau ke sebuah apel yang diletakan diatas kepala seseorang lebih murah dibandingkan tayangan bioskop yang biaya masuknya mencapai lima digit.

Tapi tempat ini tidak kalah ramai, suara-suara kebahagian melihat seseorang menyemburkan api dari mulutnya jelas lebih mengundang decak kagum dibandingkan live performance di sebuah cafe. Atau tepuk tangan antusias lebih terdengar saat seseorang mengunyah beling dibandingkan kehebatan seorang  DJ memainkan sebuah lagu. Dan tawa lebih membahana melihat pantonim kelas amatir dibandingkan tawa yang ada digedung pertunjukan teater karena yang menyanksikan lebih memikirkan tata krama saat tertawa dibandingkan benar-benar menikmati kelucuan yang ada.

Selamat datang di pasar malam!

“Hey nona manis, sedang apa?” Laki-laki yang mengenakan kemeja berenda ditengah dadanya, serta dasi kupu-kupu berwarna merah, dan topi panjang ala pesulap menegur seorang wanita yang terduduk disalah satu sudut lapangan besar tempat pasar malam sedang diadakan.

Wanita itu hanya mendongkak lalu tersenyum kemudian tertawa melihat penampilan laki-laki yang berdiri dihadapannya.

“Jangan tertawa donk, ini kan pekerjaanku.” Bela laki-laki sambil melipat pita berwarna merah yang dia gunakan untuk melakukan atraksi.

Wanita itu tetap tertawa. “Kenapa kamu berpakaian seperti itu?”

“Agar menarik perhatian. Dan mungkin ditertawakan oleh orang-orang yang melihat.”

“Mereka tertawa tidak?”

“Oh tentu, apalagi saat aku secara sengaja melilitkan pita-pita ini disekujur tubuhku. Mereka puas menertawaiku.”

“Hmm, jadi kamu sengaja? Bukan karena kamu tidak bisa?”

Laki-laki itu menyipitkan matanya, merasa diremehkan. “Oke, kamu mau liat aku beratraksi?”

Wanita itu tidak mengangguk maupun menggeleng. Dan laki-laki itu tahu, karena semua wanita melakukan itu, diam berarti anggukan. Akhirnya dia kembali berdiri dan memperlihatkan kebolehannya memainkan pita-pita panjang khusus untuk wanita yang ada dihadapannya.

Gerakan demi gerakan dilakukan oleh laki-laki itu dengan sangat indah. Membuat sang wanita terpukau, kini dia percaya, bahwa laki-laki itu memang sengaja melilitkan pita saat atraksi tadi. Untuk mengundang tawa.

“Gimana? Percaya kan sekarang?” Laki-laki itu tersenyum, setelah melakukan gerakan terakhirnya dia kembali duduk, lalu melepas topi panjangnya.

Wanita yang menjadi lawan bicaranya hanya tersenyum, mengangguk. “Jadi, sudah selesaikah pekerjaanmu?”

“Sudah donk. Mau kemana kita sekarang?”

“Midnight yuk.”

“Baiklah, aku ganti baju dulu yah sayang.”

Sepeninggal sang laki-laki, wanita itu berdiri, memperhatikan setiap sudut yang menjadi tempat kerja kekasihnya yang baru dia dapatkan seminggu yang lalu. Ada-ada saja, mahasiswa psikologi magang ditempat seperti ini hanya untuk mendapatkan ekspresi keceriaan asli atau palsu dari setiap orang yang dia hibur, batin wanita itu.

Beautiful by Amritsa Muhamad

Banyak balon yang bertebaran, tempat ini sebenarnya indah. Tapi wanita itu gerah, dia tersenyum, mungkin memang bukan disini tempatnya, begitu pun kekasihnya. Tempat mereka adalah sebuah keramaian dimana denting gelas beradu, tawa mencemooh orang yang lalu lalang karena pakaiannya, dan orang-orang yang memamerkan tas belanja dengan lambang merk yang terkenal.

“Sudah? Yuk!” Suara laki-laki membuyarkan lamunan wanita itu, dia hanya mengangguk lalu berjalan bersebelahan dengan kekasihnya itu.

“Gimana? Kamu bisa menganalisa pengunjung disini?” Tanya wanita itu sambil menggandeng lengan kekasihnya.

“Hahaha, bisa banget. Dan seperti yang kita perdebatkan tadi saat berangkat, disini nggak ada senyum palsu sayang.” Jawab laki-laki itu sambil terus berjalan ketempat mobil laki-laki itu terparkir. “Ditempat yang kita tuju nanti, baru banyak senyum palsunya!” Lanjut laki-laki itu, kemudian dia tertawa, wanita itu pun ikut tertawa.

Selamat datang di pasar malam, dimana kebahagian nyata adanya!

2 thoughts on “Pasar Malam

  1. bercerita tentang senyuman palsu manusia perkotaan yang hanya membeli “gengsi” dari pada kenikmatan yang sesungguhnya, bner gak vin??
    keren bgt deh..!😀 jadi seneng baca2 tulisan lo gw, sambil ngerjain UAS kualitatif.. hehehe🙂

    1. Yep! Benar, hahaha. Terispirasi dari cerita temen gw yang disuruh Dosen nya untuk dateng ke restoran yg sama dengan pakaian yg berbeda, bagus dan jelek. Lalu liat bagaimana pramusaji melayani dia, hahaha. Semangat UAS Kualitatif nya Yudh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s