Bintang Di Bulan Januari

Dia mengendarai mobil itu dengan sangat cepat, ke arah Barat Jakarta, tempat dimana Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta berada. Wanita yang duduk sebagai co-pilot terlihat gelisah, dia lah yang meminta sang laki-laki yang mengemudi untuk memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi sejak tadi.

“Bisa cepetan lagi nggak?”

“Ya Tuhan, kamu nggak ngeliat ini kecepatan aku udah berapa?” Jawab laki-laki itu sedikit kesal. Sebenarnya dia bisa lebih cepat lagi kalau dia tidak memikirkan keselamatan berkendara.

“Kamu sih tadi lama banget jemput aku, tau gitu aku bareng aja sama keluarganya.” Wanita itu kembali mengeluh, sudah kesekian kalinya sejak jam lima sore tadi saat dia memasuki mobil laki-laki yang sekarang menjadi teman perjalanannya dia mengeluhkan ini dan itu.

Laki-laki itu tidak mau membalas argumen sang wanita, dia biarkan saja wanita itu terus berbicara sesukanya. Dia tahu bahwa pesawat itu akan mendarat pada pukul delapan malam, masih banyak waktu sebenarnya. Tapi wanita ini memang sudah tidak sabar untuk sampai di Bandara, seakan jika dia sampai duluan, maka pesawat yang ditunggu akan lebih cepat sampai.

“Kamu tenang donk, ini belum juga jam tujuh dan gerbang Soekarno-Hatta nya udah keliatan.” Kata laki-laki akhirnya sambil terus mengemudi dan melirik wanita yang berada disebelahnya. Wanita itu tetap cemberut, entah apa yang dipikirkannya.

Akhirnya mobil itu terpakir, wanita itu berlari masuk kedalam Terminal 2, tempat keberangkatan dan kedatangan pesawat-pesawat internasional. Sedangkan laki-laki itu hanya berjalan perlahan sambil menghembuskan nafasnya, bingung dengan tingkah laku si wanita.

“Ayo donk cepetan!” Wanita itu menoleh meneriaki laki-laki. Akhirnya laki-laki itu hanya berjalan cepat, menyusul wanita yang hampir sampai diruang tunggu kedatangan Terminal 2 Soekano-Hatta.

“Keluarganya mana?” Tanya laki-laki terduduk sambil menyalakan rokoknya, tidak peduli dengan peraturan yang melarang untuk merokok ditempat itu.

“Sebentar, aku telvon dulu.”

Selama wanita menelepon, laki-laki itu menikmati setiap hembusan yang dikeluarkan, asap putih menari-nari disekitar wajahnya. Pikirannya buntu, rokok yang biasanya membuat dia bisa berpikir kini tidak bisa membantu apa-apa. Sahabatnya kembali dari negeri seberang, seharusnya dia bahagia bisa kembali bertemu dengannya tapi entahlah, dia bingung harus merasakan apa kali ini.

“Eh, kata Ibunya, dia udah mendarat, dan sekarang lagi nunggu bagasi. Kita ngumpet dulu, bikin kejutan buat dia yah.” Wanita itu selesai menelepon. “Kan dia nggak tau kalo kita juga ikut ngejemput, hehehe.” Lanjut wanita itu sambil memandang kearah laki-laki.

Laki-laki itu hanya mengangguk tanpa menoleh. “Ya kan emang begitu rencananya. Nggak usah diingetin lagi.”

Wanita itu tersenyum, sudah tidak sabar menjalankan rencana kejutan yang sudah dia siapkan. Untunglah dia belum terlambat sampai di Bandara, sehingga masih bisa mengatur nafasnya. Laki-laki semakin gelisah, walaupun dia tahu cepat atau lembat ini akan terjadi tapi dia tidak siap dengan semuanya.

“Itu dia, itu dia!” Histeris suara wanita membuyarkan lamunan laki-laki. Kini dia melihat apa yang dilihat oleh wanita. Sebuah keluarga yang lengkap dengan ayah dan ibu serta dua anak perempuan yang mengelilingi seorang pria dengan tas besar dipundaknya dan mendorong troli yang penuh dengan koper, mereka terlihat berbicara, lalu tertawa bersama-sama. Keluarga itu berkumpul lagi.

Sang wanita berdiri, “JANUAR!”

Pria mencari sumber suara, dan akhirnya menemukan sesosok wanita dengan laki-laki disampingnya. Wanita itu tersenyum, laki-laki hanya melambai dengan sedikit seringai diwajahnya.

“BULAN? BINTANG?”

Bintang melihat Bulan berlari menuju Januar, lalu mereka berpelukan. Bintang tidak bisa menahan dirinya untuk tidak cemburu. Bulan sudah dia anggap sebagai kekasihnya saat Januar pergi untuk melanjutkan kuliahnya di Perancis, dan entah kenapa Bulan juga selalu ketergantungan dengan dirinya selama Januar pergi. Tapi kini Januar sudah kembali, sapaan aku dan kamu dari Bulan akan berubah semula menjadi gue dan loe. Bintang sadar akan posisinya, dia berjalan menuju Januar dan Bulan sambil tersenyum.

“Hey Men, gimana kabar loe?” Sapa Bintang sambil memeluk Januar.

Relationship (front) by Amritsa Muhamad
Relationship (back) by Amritsa Muhamad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s