Tertangkap

“Tapi Pak, saya kan nggak ganggu ketenangan orang-orang.” Aku membela diri saat sudah berada diatas mobil pick-up yang beratapkan terpal. Mobil pick-up ini sering aku lihat dan menjadi musuh semua pedagang kaki lima. Mobil para petugas trantib!

Orang yang aku ajak bicara terdiam. Mungkin kalimatku barusan sudah pernah dia dengar ribuan kali. Alasan bahwa ini adalah pekerjaan halal yang bisa dilakukan mungkin sudah mereka dengan juga, alasan kalau orang tua sakit dan perlu biaya pengobatan pasti juga didengar. Aku bingung, ini pertama kalinya aku tertangkap. Biasanya aku paling gesit untuk kabur dari kejaran Trantib.

“Udahlah Mas, mereka bukan masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Omongan kita sudah mantul duluan di telinga kanan mereka.” Seseorang yang duduk disebelahku berbicara. Aku menunduk, benar apa yang dikatakannya.

“Jualan dimana memangnya Mas?” Lanjut orang itu.

“Taman Suropati.” Jawabku seadanya. Jantungku masih berdebar kencang karena proses penangkapan tadi.

“Hoo, saya di Taman Menteng. Nama saya Rahmat.” Dia menjulurkan tangannya kearahku.

Aku menjabat tangannya dengan cepat. “Rangga.”

Tiba-tiba mobil berjalan semakin pelan, udara dingin malam ini sangat menusuk tubuhku. Aku sempat berpikir untuk menyeduh kopiku sendiri dan mungkin menawarkan beberapa petugas trantib. Menghangatkan badan, sekalian mencari muka, siapa tahu nanti prosesku tidak lama. Aku masih terus berpikir sampai akhirnya mobil benar-benar berhenti di tengah jalan Thamrin. Jam segini masih macet? Batinku.

Tapi beberapa petugas terlihat mengeras raut wajahnya, mereka melihat apa yang tidak aku lihat. Pandanganku hanya mengarah ke samping dan kadang ke belakang, tidak pernah memperhatikan jalan depan.

“Ada apa sih Pak?” Tanyaku akhirnya, Rahmat juga menunggu jawaban dari salah satu petugas trantib yang aku tanya.

“Ada kecelakaan beruntun.”

Aku menoleh kearah yang sama dengan para petugas yang kini sudah turun. “Ya Tuhan!”

Skip

Aku terbangun, bagian punggungku terasa sakit. Aneh. Biasanya kepalaku lah yang rewel, pusing saat terbangun karena aku terlalu lama melakukan kegiatan yang bernama tidur. Kebiasaanku saat terbangun adalah memandang langit-langit kamarku, aku menamai fase ini sebagai mengumpulkan nyawa. Aku yakin semua orang melakukan itu, setidaknya banyak orang.

Pandanganku tertuju kepada langit-langit kamar yang berwarna coklat pudar, ini dimana? Langit kamarku jelas berwarna biru, aku tahu itu. Lalu dimana aku sekarang? Aku memperhatikan pakaian yang aku kenakan, dan tubuhku terlbalut selimut tipis berwarna putih. Selimut kamarku selalu tebal, Ibuku memang membeli selimut yang tebal karena tahu bahwa aku selalu menyalakan pendingin ruangan dengan suhu terendah, sehingga kamarku selalu sejuk. Salah, bukan sejuk, tapi dingin.

Punggungku sakit, aku mulai bangun dan merasakan bagian punggungku dengan tangan kananku. Ada bagian nyeri saat kuraba disuatu bagian. Ada apa denganku? Ini dimana? Pandangku mulai jernih, aku memperhatikan dengan seksama ruangan tempat aku tertidur. Sebuah meja kecil disamping tempat tidur, ada kursi dan meja di salah satu pojok ruangan yang dibelakangnya ada tirai yang menutup jendela, tepat disampingnya adalah sebuah pintu. Di sudut yang lain terdapat sebuah pintu lain, aku tahu itu pastilah pintu kamar mandi, dan sudut yang lain terdapat sebuah lemari kecil. Aku tahu setting tempat ini, Rumah Sakit!

Sebelum aku berhasil mencerna kejadian-kejadian yang terjadi, pintu kamar terbuka. Seorang wanita dengan pakaian suster menghampiriku.

“Syukurlah Mas sudah sadar. Pusing?”

Aku terdiam, aku bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?