Gemini ♊

“Apa kamu keberatan kalau kita kesana?” Shesa bertanya kepada Rama. Ternyata dia tidak tahan untuk bangun dan melihat kembang api lebih dekat.

Rama menggeleng. “Yuk!”

Akhirnya mereka berdua pun berdiri dan berjalan ke tempat dimana orang-orang berkerumun menyaksikan pesta kembang api. Mereka berdua merelakan tempat duduk mereka diisi oleh orang lain yang sejak tadi berdiri karena kehabisan tempat duduk di semua tempat makan dan minum yang ada di mall itu.

“Eh, nanti kita duduk dimana kalau udah selesai?” Tiba-tiba Shesa menoleh ke arah Rama, di langit berbagai kembang api sedang berkejaran membuat pola yang paling indah.

“Ya nanti aja dipikirinnya. Sekarang liat kembang api dulu.” Jawab Rama santai, tidak melihat ke arah Shesa karena dia sedang asik menyaksikan kembang api.

Shesa mencoba tenang dan menikmati kembang api. Tapi usahanya gagal, berkali-kali dia menoleh ke belakang dan memperhatikan meja dan kursinya yang kini sudah ditempati oleh sepasang suami istri paruh baya.

Rama menjadi merasa tidak nyaman karena melihat Shesa yang gelisah. “Kamu pernah duduk-duduk di parkiran mobil?”

Shesa terkejut mendengar pertanyaan Rama. Dia tidak mengira bahwa Rama sejak tadi memperhatikannya.

“Belum, memangnya kenapa?”

“Ya udah, nanti kita duduk disana aja. Gratis loh.”

Shesa tertawa, dan mendadak kegelisahannya sirna. Dengan santai dia menyaksikan kembang api yang belum juga habis menghiasi angkasa.

“Ram.” Shesa mencubit kecil kemeja Rama dan sedikit menggoyangkannya.

“Kenapa, Sa?”

“Kamu Gemini?”

Rama yang sejak tadi terpukau dengan kembang api mengalihkan perhatiannya ke Shesa. “Kok kamu tahu?”

Shesa tertawa penuh kemenangan. “Ya, kamu santai banget. Keliatan, lah, kalau kamu Gemini.”

Rama tertarik. Sebenarnya dia bukan orang yang sibuk memperhatikan ramalan bintang di suatu majalah mingguan atau membedakan orang melalu zodiaknya. Baginya zodiak hanyalah sebuah tanda, sebuah kepemilikan yang dimiliki siapapun sehingga bisa membanggakan dirinya. Zodiak hanya untuk lucu-lucuan.

“Iya, aku Gemini. Kenapa dengan dia? Eh, atau mereka? Mereka kembar, kan?”

Shesa tersenyum.

***

Mereka berdua bernama Castor dan Pollux. Uniknya, walaupun kembar mereka memiliki ayah yang berbeda. Ayah Castor adalah Tyndareus, seorang Raja Sparta. Sedangkan Pollux berayahkan Zeus, seorang Dewa. Karena ayah Castor adalah manusia, dia tidak bisa hidup abadi seperti Pollux yang berayahkan dewa.

Mereka berdua tinggal di Sparta. Sebagai pangeran, Castor dan Pollux diperlakukan dengan sangat baik oleh rakyatnya. Bersama dengan Clytemnestra dan Helen, kedua adik perempuan mereka yang juga kembar, Castor dan Pollux muda mempelajari semua ilmu yang diberikan kepada guru mereka di istana. Dari mulai astronomi, berkuda, memanah, strategi perang, sampai bermain musik.

Tapi tidak seperti kedua adik perempuannya yang lebih suka melarikan diri saat pelajaran dimulai, Castor dan Pollux menyukai semua bidang pelajaran. Mereka berdua sering kedapatan keluar istana oleh ayah mereka disaat malam untuk sekedar bermain dan mengaplikasikan pelajaran yang mereka dapatkan. Biasanya mereka berdua akan dihukum untuk menghitung jumlah bintang yang sedang terlihat. Dan mereka berdua melakukannya sambil bercanda, sehingga kadang membuat ayah mereka kewalahan. Ibu mereka, Leda, kadang tertawa melihat kelakuan Castor dan Pollux yang selalu tidak mempunyai beban, padahal tahta kerajaan Sparta akan dipikul oleh mereka berdua.

Pada suatu malam, Castor dan Pollux yang sudah merencakan untuk pergi ke kota tetangga, Troya, mendapati seseorang mencuri di salah satu rumah. Mereka berdua dengan semangat mengejar pencuri tersebut. Kebetulan arah yang dituju pencuri adalah Troya, tempat yang semula juga ingin mereka datangi.

Castor dan Pollux tidak tahu bahwa yang mereka datangi adalah bahaya. Mereka menyergap pencuri di tempat yang salah, yaitu di markas gerombolan pencuri itu. Akhirnya Castor tewas disana, sedangkan Pollux yang sudah terluka parah, kembali ke Sparta.

Pollux yang tidak kuat untuk hidup seorang diri meminta kepada ayah kandungnya, Zeus, untuk membagi nyawanya kepada Castor. Zeus pun menyanggupi. Akhirnya keabadian Pollux diangkat, dan bersama Castor dia membentuk rasi bintang Gemini di langit.

Tyndareus yang marah karena kehilangan kedua putranya memilih untuk menyerang kota tetangga, akhirnya pecah apa yang disebut dengan Perang Troya.

***

“Kasian mereka.” Rama berkomentar sambil memperhatikan Shesa yang baru saja selesai bercerita.

“Iya, sedih banget, kan?”

“Terus apa hubungannya sama aku yang santai banget?”

“Ya, Castor sama Pollux adalah tokoh paling nyantai yang aku tau di mitologi. Mereka seru banget kayaknya untuk diajak main.”

“Hahaha!” Rama tertawa dengan keras, membuat orang disekitarnya sempat memalingkan wajah ke arahnya. “Kamu ini ada-ada aja. Masa diajak main?!”

Shesa ikut tertawa, membayangkan dirinya bermain bersama si kembar dari Sparta.

Gemini, The Twins

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s