Siren

“Aku bingung kenapa bisa sedepresi ini.”

“Hahaha! Mungkin karena kamu mendengar suara Siren.”

“Siren?”

“Iya, tokoh yang ada di mitologi Yunani.”

Shesa memandang Rama dengan kebingungan. Rama yang menikmati detik-detik rasa penasaran Shesa hanya tersenyum kecil, senang karena pembicaraan ini semakin menarik untuk lawan bicaranya.

Shesa tidak langsung bertanya, dia memilih untuk membuang pandangannya ke segala arah. Shesa memperhatikan orang-orang yang mulai ramai memadati ruangan kosong yang menghadap ke arah parkiran. Mereka semua nyaris melakukan hal yang sama, mendongak, melihat langit malam yang sebentar lagi akan dipenuhi oleh bara-bara kecil berwarna-warni.

Sudah hampir pergantian tahun memang, tapi Rama maupun Shesa tidak sedikit pun mempunyai niat untuk bangun dari tempat duduk mereka, di sebuah kedai kopi internasional di salah satu mall Jakarta Selatan yang dekat dengan ruang kosong yang kini menjadi sasaran penglihatan Sesha, dan bergabung memadati kerumunan untuk melihat pesta kembang api.

Shesa kembali meletakan pandangannya ke arah orang yang duduk di hadapannya. “Oke, aku nyerah. Coba ceritain tentang Siren itu.”

Rama tersenyum. Puas.

***

Dulu, ada seorang nelayan yang memaksakan diri untuk melaut disaat cuaca sedang sangat tidak bersahabat, angin berhembus sangat kencang, sampai-sampai untuk berjalan saja sulit. Semua orang tahu, bahwa malam ini hujan badai akan terjadi.

Tapi si nelayan bersih keras ingin melaut karena dia membutuhkan uang untuk membiayai ibunya yang sedang sakit. Teman-temannya sudah melarang, namun dia tetap teguh dengan pendiriannya. Sampai akhirnya, si nelayan benar-benar pergi melaut seorang diri.

Karena gelombang yang sangat besar, perahu si nelayan terombang-ambing tidak karuan. Hujan mulai turun, dan membuat kapalnya penuh dengan air. Belum sempat dia melempar jala, dia sudah terhempas dari perahunya karena ombak yang menghantam.

Walaupun si nelayan bisa berenang, namun arus laut bukanlah tandingannya. Dia banyak menelan air, hingga akhirnya tidak sadarkan diri. Siren yang tidak sengaja sedang melintas di tempat dimana si nelayan nyaris tenggelam, membantu si nelayan dan membawanya ke karang terdekat. Karang-karang besar adalah rumah Siren.

Siren sekuat tenaga membantu agar si  nelayan bisa sadarkan diri. Dari mulai membuat nafas buatan, sampai memukul dada si nelayan dengan keras. Tapi nihil. Akhirnya saat matahari mulai terlihat di timur, si nelayan sudah tidak bernafas. Dia meninggal.

Sejak itu, hampir setiap malam Siren memainkan harpanya dan bernyanyi. Dia merasa gagal menolong si nelayan. Suaranya mampu membius siapapun yang mendengarnya. Suara Siren memang indah, namun nadanya selalu menyakitkan. Membuat semua orang yang mendengar terpukau sekaligus bersedih hati tanpa alasan.

***

“Kenapa Siren bisa sedepresi itu?” Shesa bertanya sambil menegak kopinya yang sudah mulai dingin.

Rama mengangkat kedua bahunya. “Aku juga nggak tau.”

Tiba-tiba Shesa tertawa, gelas kopinya segera dia letakkan kembali di atas meja. “Hahaha! Aku tau kenapa Siren depresi.”

“Kenapa?”

Shesa meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya dan sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Rama. “Karena dia pikir, si nelayan itu Pangeran. Seharusnya ending cerita dia seperti Ariel di Little Mermaid!”

Rama hanya memincingkan matanya, tidak setuju dengan pendapat itu. Dia juga tidak menemukan kelucuan kalau pun itu hanya candaan yang dibuat oleh Shesa.

“Kamu aneh.” Ujar Rama sambil kembali menegak kopinya.

“Biarin, weee!” Balas Shesa dengan menjulurkan lidahnya.

Akhirnya Rama tertawa, dan Shesa kembali melanjutkan tawanya.

“HAPPY NEW YEAR!”

Semua orang serentak berteriak. Mereka semua menyaksikan hiburan yang hanya bisa disaksikan setahun sekali, yaitu, parade kembang api di langit. Rama dan Shesa dengan cepat melemparkan pandangan ke atas. Langit sedang dilukis oleh para manusia.

“Selamat tahun baru, Ram.” Kata Sesha tanpa menoleh.

“Selamat tahun baru juga, Sa.” Balas Rama juga tanpa menoleh.

The Siren by John William Waterhouse

6 thoughts on “Siren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s