Minggu

Akhirnya selesai sudah acara pesta kembang api. Semua orang membubarkan diri dari ruangan yang menghadap parkiran. Para orang tua yang membawa anaknya pulang, sedangkan para muda mudi melanjutkan pesta di tengah hallway yang mendadak menjadi tempat rave party.

“Yuk, ke parkiran.”

“Ngapain?” Shesa bingung, lupa bahwa dia sudah mengangguk saat ditawari Rama untuk duduk di parkiran.

Rama tesenyum. “Bukannya tadi kamu bingung mau duduk dimana setelah acara selesai?” Rama berkata sambil melihat ke arah kedai kopi tempat dimana mereka berdua duduk, masih ramai.

“Oh, iya. Aku lupa. Ya udah, yuk!” Akhirnya Shesa mengikuti Rama yang selangkah lebih di depan saat berjalan. Sesekali masih ada kembang api yang berkibar di langit.

“Tahun ini pasti aneh. Awal tahunnya jatuh di hari Minggu, hari terakhir.” Kata Shesa, kembali membuka pembicaraan saat menuruni tangga menuju parkiran.

Rama berhenti berjalan dan menoleh, “Siapa bilang Minggu itu hari terakhir?”

“Loh, memang iya, kan?”

Rama mencari BlackBerrynya yang tersimpan di kantung celana jeansnya. Shesa menunggu dengan sabar sambil memperhatikan orang-orang yang mulai berjalan mencari mobil mereka untuk keluar dari mall ini.

“Nih, liat.” Rama menunjukan aplikasi kalender yang ada di telepon genggamnya kepada Shesa.

Shesa tau apa maksud Rama dan dia terkejut. “Oh iya! Eh, ini pasti karena kamu udah ubah settingannya.”

Shesa segera mencari BlackBerrynya yang berada di tas tangan yang sejak tadi dia gantungkan di bahu tangan kanannya. “Sebentar, sebentar. Aku mau ngecek juga.” Setelah mendapatkan benda yang dia cari, Shesa segera membuka aplikasi kalender, dan mengubahnya menjadi month view, ternyata hasilnya sama seperti apa yang ditunjukan Rama tadi. Minggu berada di awal, menunjukan bahwa dia adalah hari pertama.

“Gimana?” Rama tersenyum jail.

“Ya ampun, aku baru sadar loh.” Balas Shesa akhirnya sambil kembali memasukan telepon genggamnya ke dalam tas tangan.

“Kita, kan, menggunakan kata minggu untuk merujuk awal pekan yang baru. Karena dia hari pertama. Lagian, satu tahun itu ada 52 minggu, bukan 52 senin, kan?” Jelas Rama sambil melanjutkan perjalanan mencari spot untuk duduk di parkiran.

Shesa mengikuti Rama sambil terus berpikir, “Bener, juga yah.”

“Kadang, kita memang suka nggak sadar sama hal yang sederhana.”

“Iya, padahal aku sering banget kalo lagi ngatur jadwal nulis minggu kesekian, minggu kesekian, dan minggu kesekian. Nggak pernah tuh nulis senin kesekian, atau selasa kesekian.”

Rama tertawa mendengar penjelasan Shesa. “Kamu ngatur jadwal kamu? Memangnya kamu sesibuk apa sampai harus membagi minggu? Hahaha.”

Shesa hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Rama. Lagipula Shesa tahu, Rama tidak mengharapkan jawaban darinya. “Tunggu! Terus kenapa Minggu termasuk dalam kategori weekend?” Shesa tersadar ada yang salah dari pembicaraan ini.

Rama terdiam, berpikir. “Aku juga nggak tau. Kamu mau aku buat cerita sok taunya?”

Shesa mengangguk cepat.

***

Masalah terjadi saat Dewa Surya mengambil jatah waktu istrinya, Dewi Chandra, dan membuat siang lebih panjang dari sebelumnya. Seharusnya mereka seimbang membagi waktu tugas, 12 jam setiap harinya.

Dulu, Dewa Surya sudah dapat dilihat setiap pukul 4, dan dia akan menyerahkan tugasnya kepada Dewi Chandra tepat pada pukul 16. Semuanya berjalan dengan baik sampai Kartika, anak Dewa Surya dan Dewi Chandra yang selalu ada diantara jam tugas mereka, tiba-tiba tidak mau menemani ayahnya bertugas.

Kartika lebih suka menemani ibunya bertugas, karena disaat malam tiba, para manusia akan tertidur dan dia bebas memamerkan cahayanya untuk dikagumi para manusia yang masih terbangun, kadang, dia berlarian kesana-kemari. Kalaupun tertangkap oleh mata manusia, Kartika bisa tenang, karena dia akan dianggap sebagai meteor. Ini jelas berbeda saat Kartika menemani ayahnya bertugas, dia tidak bisa memamerkan cahanya seenaknya dan bermain kesana-kemari, karena manusia banyak yang melakukan aktivitas di siang hari.

Dewa Surya marah karena Kartika membangkang, sehingga dia memutuskan untuk menunggu Kartika muncul di waktu yang sudah ditetapkan sebagai waktu tugas Dewi Chandra. Saat itu manusia keheranan karena siang tak kunjung selesai, langit menjadi berwarna merah karena ada dua sumber cahaya.

Dewi Chandra pun sempat khawatir, dengan cepat dia mengadu kepada Dewa Siwa, karena jika ini dibiarkan, keseimbangan Bumi akan hancur. Hingga pukul 19, Dewa Surya masih bisa dilihat oleh manusia. Sampai-sampai manusia berpikir bahwa ini adalah akhir dari dunia.

Karena hal tersebut, Dewa Siwa akhirnya memutuskan untuk melakukan perubahan di Bumi. Kartika dihukum untuk menemani ayahnya, Dewa Surya, selamanya tanpa terlihat oleh mata manusia, sehingga Kartika tidak lagi bisa memamerkan cahayanya. Dan Dewa Surya, karena kesalahannya muncul lebih lama di langit, dihukum dengan bertugas lebih lama, sampai pukul 18.

Sejak saat itu, manusia menamai hari dimana Dewa Surya muncul lebih lama sebagai hari Surya. Karena di hari itu, manusia bisa lebih lama menikmati cahaya, anak-anak lebih lama bermain di luar. Manusia bersenang-senang di hari itu. Keesokan paginya mereka harus sudah siap untuk beraktivitas kembali karena sudah diberikan cahaya yang lebih di hari sebelumnya.

***

“Hahaha!” Shesa tertawa terbahak-bahak mendengar cerita yang dikarang habis-habisan oleh Rama. Shesa tidak mengira bahwa Rama ternyata pandai mengacak-acak mitologi, tidak hanya kepada Siren, tapi sampai ke Dewa-Dewi.

“Kok ketawa? Gimana pendapatnya?” Tanya Rama sambil terus memandang Shesa.

“Kamu lucu, Ram.” Kata Shesa disela tawanya. “Kamu sampe nyiptain hari Surya segala. Kita, kan, lagi ngomongin hari Minggu.” Shesa melanjutkan tawanya.

“Kamu lupa hari Minggu itu bahasa inggrisnya apa?”

Shesa terdiam. Dia baru menyadari bila Rama sangat cerdas.

Surya
Chandra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s