Yogyakarta

“Sunday!”

Rama tertawa mendengar Shesa sedikit berteriak. “Iya, hari matahari.”

Akhirnya Rama berhenti berjalan, tepat di belakang sebuah mobil yang terparkir sembarangan, mobil itu tidak menyentuh besi belakang yang menandai batas parkir, sehingga memberikan ruang kosong antara mobil dan trotoar.

“Duduk sini aja.” Kata Rama sambil menoleh ke arah Shesa yang masih tersenyum.

“Oke.” Shesa dengan santai mengikuti Rama yang telah lebih dulu duduk di trotoar, menghadap ke arah mobil yang diparkir sembarangan oleh pemilikinya.

Baru 10 menit sejak kalender masehi resmi berganti menjadi 2012, tapi Shesa tau bahwa tahun ini adalah tahun miliknya, dia mengawali tahun baru dengan menyenangkan, bersama Rama.

“Yang markir bego. Padahal batas besinya masih jauh banget, kan kasian jatah jalan di depannya jadi berkurang.” Tiba-tiba Rama berkomentar, membuat Shesa yang sejak tadi mencari posisi nyaman untuk duduk, tertawa.

“Hahaha, kamu seenaknya aja ngatain orang bego. Belum tentu kamu tau tadi kondisinya kayak apa. Siapa tau tadi hectic banget, mobil parkir pararel, dan pemilik mobil ini kesusahan.”

Rama ikut tertawa, benar apa yang dikatakan Shesa, dia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kadang kita memang dengan mudahnya membuat suatu pernyataan tanpa tahu masalah yang sebenarnya. Seperti saat ini, Rama tidak tahu alasan pemilik mobil memarkir mobilnya dengan tidak sempurna, lalu dia dengan mudahnya mengatai pemilik mobil.

“Alah, kamu juga kalo markir mobil, sembarangan, kan?” Rama memilih untuk menjahili Shesa.

Shesa yang sedang menikmati tawanya seketika terdiam. Lalu dengan cepat dia memukul kecil bahu Rama. “Ih, ngeselin banget kamu.”

Kali ini gantian Rama yang tertawa terbahak-bahak melihat Shesa merajuk.

“Kemana perjalanan menggunakan mobil kamu yang paling  jauh?” Tanya Rama setelah mampu mengontrol tawanya.

“Hmm, Bandung.” Jawab Shesa cepat tanpa berpikir, tapi kemudian dia langsung tersenyum, menyadari kesalahan jawaban yang dia berikan kepada Rama. “Bukan bukan, yang paling jauh itu Jogja. Tahun lalu, eh, dua tahun yang lalu!”

“Wah, kamu ke Jogja pake mobil? Seru?”

Shesa tersenyum, dia hampir saja melupakan perjalanan paling menyenangkan yang pernah dia lakukan. Seorang diri.

***

Waktu itu aku sedang mempunyai masalah .. baiklah baiklah, masalah percintaan. Sebenarnya sederhana saja, aku mendapati pacarku berselingkuh. Klise? Memang seklise itu. Lalu dengan bodoh aku mengatur sebuah perjalanan, perjalanan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku ke Jogja!

Aku menyewa sebuah mobil dan supir dari Jakarta. Orang tuaku tidak tahu aku pergi ke Jogja seorang diri, kalau mereka tahu, pasti mereka sudah melarangku. Aku berkata kepada orang tuaku kalau aku sedang melakukan penelitian di sebuah desa di Bandung untuk tugas kuliah bersama teman-temanku, dan aku akan menginap di rumah teman kuliahku yang mempunyai rumah di Bandung. Mereka percaya!

Selama perjalan, aku lebih sering berdiam diri, atau memandang keluar jendela sambil menangis. Tapi karena aku malu dengan Pak Bayu, supir berumur empat puluh tahunan yang aku sewa, tangisku tidak bersuara. Sampai akhirnya Pak Bayu menyadari bahwa aku sedang menangis, kemudian dia bilang bahwa dia mau mendengarkan musik dari telepon genggamnya menggunakan headset dengan volume paling kencang.

Aku tersenyum, hampir tertawa bahkan, Pak Bayu sangat pengertian. Akhirnya, setelah aku bisa mendengar lagu dangdut yang berasal dari headset di telinga Pak Bayu, aku menangis sejadi-jadinya. Selesai menangis, aku tertidur, lalu terbangun di daerah yang tidak aku ketahui. Karena aku kelaparan, akhirnya mobilku berhenti di sebuah rumah makan Padang pinggir jalan. Selama makan, aku curhat tentang masalah percintaanku kepada Pak Bayu, dia hanya tertawa saja mendengar ceritaku. Mungkin bagi dia kisahku itu konyol, aku masih terlalu muda untuk mendramatisir kisah cinta. Pengalamanku masih cetek sampai menganggap cinta itu hanya kasih kepada seorang laki-laki.

Saat kembali melanjutkan perjalanan, aku kembali menangis, kali ini Pak Bayu tidak menggunakan headsetnya. Dia dengan sabar membuka telinganya, mendengar aku menangis. Kemudian aku kembali tertidur.

Saat aku terbangun, aku bingung, Pak Bayu tidak lagi ada di belakang kemudi. Mobil sudah terpakir di sebuah tempat yang aneh, sebuah bukit. Saat itu pukul 5, matahari baru sedikit terlihat di timur. Pak Bayu yang sedang berbicara dengan satpam sambil merokok melihatku turun dari mobil. Dia menghampiriku sambil tersenyum dan berkata bahwa kami sudah sampai di Jogja, tapi dia tidak mau membangunkan aku, sehingga dia mengambil inisiatif untuk membawaku ke salah satu tempat yang tinggi di Jogja untuk melihat matahari terbit.

Aku tersenyum, Pak Bayu sangat baik. Dia mengajaku untuk berjalan, udara pagi Jogja membuatku harus mengambil jaket terlebih dahulu di dalam mobil. Dari penglihatanku, tempat ini adalah tempat pariwisata, ada sebuah petunjuk berbentuk tiang yang membuat pemikiranku benar.

Kami terus berjalan, sampai tiba-tiba aku terkejut dengan apa yang aku lihat. Aku melihat sebuah candi! Dan candi itu berbentuk gerbang, tidak seperti candi-candi yang pernah aku lihat sebelumnya. Sinar matahari yang belum perkasa menimpa candi dan membuat pemandangan paling spektakuler yang pernah aku lihat. Ini terlalu indah untuk mataku!

Pak Bayu sadar akan keterkejutanku, dia hanya tersenyum sambil berkata bahwa aku harus melupakan mantan pacarku dan memulai mencari cinta yang baru, karena aku sudah melihat matahari terbit di gerbang candi Ratu Boko, Yogyakarta.

Aku tidak bertanya, aku tidak menjawab, aku tahu maksud Pak Bayu. Matahari terbit dan gerbang? Aku cukup pintar untuk tahu bahwa itu adalah analogi untuk sebuah kata: Awal. Air mataku mengalir, bukan, aku bukan sedih, aku bahagia.

***

“Wow! Ini kisah nyata?” Rama bertanya dengan nada tinggi, bersemangat.

“Iya dong, kalo nggak percaya, tanya aja Pak Bayu. Sekarang dia jadi supir pribadiku, hahaha.” Jawab Shesa bangga.

“Terus, selain ke Ratu Boko, kamu kemana lagi?”

Shesa mencoba mengingat-ingat, “Hmm, Pasar Beringharjo, Prambanan, Bangun Jiwo, hmm, banyak pokoknya.”

Rama semakin tertarik, tidak menyangka kalau Shesa ternyata mempunyai kisah perjalanan yang sangat menyenangkan.

“By the way, ini mobilku, tadi di belakang sini ada troley. Makanya nggak bisa sampe mundur banget.” Kata Shesa ketus.

Rama terdiam, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Hahaha!”

Ratu Boko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s