Enam

Malam semakin tua, jam di tangan kanan Rama sudah menujukan hampir pukul satu dini hari, tapi tentu saja malam tahun baru masih terlalu muda untuk disudahi.

Beberapa orang menuruni tangga, berpapasan dengan Rama dan Shesa yang kini sudah menjajaki anak tangga yang terakhir. Wajah orang-orang itu terlihat bahagia, mungkin ini salah satu malam tahun baru terbaik mereka, pergi bersama orang-orang tersayang sambil sekedar makan dan minum serta menyaksikan pesta kembang api yang berasal dari berbagai sudut kota.

“Eh, aku boleh ke Foodmart dulu? Mau beli rokok.” Kata Rama, teringat bahwa sebungkus rokok yang dia bawa dari rumah telah habis terbakar.

Shesa hanya mengangguk, lalu mengikuti Rama yang berjalan ke arah kanan, tempat dimana Foodmart berada.

“Rokok nggak baik buat kesehatan.” Tiba-tiba Shesa berbicara tanpa menoleh ke arah Rama.

Rama tersenyum. “Iya, soalnya bisa menyebabkan kanker, ya?”

“Itu kamu tau, selain itu, sayang bakar-bakar uang.”

“Kenapa kamu nggak bilang begitu ke mereka yang main kembang api tadi?”

Shesa tertawa, dia sangat tahu kalau perokok selalu mempunyai pembenaran untuk melakukan aktivitas mematikan itu.

Kemudian Rama dan Shesa masuk ke dalam Foodmart, di pintu masuk terdapat banyak sayur-sayuran dan bahan makanan olahan yang tinggal dimasak saja, Shesa tertarik untuk melihat-lihat. Rama menemani.

“Aku selalu suka ngeliat sushi maki, mereka berenam ngumpul, kayak lagi ngegossip.” Shesa berpendat polos saat melihat-lihat di counter sushi.

Rama yang sejak tadi bingung dengan bahan makanan yang dikomentari Shesa tergelak, “Hahaha! Kamu ini lucu, ya? Main sama si kembar gemini lah, sushi ngegossip lah. Hahaha!”

Shesa meninju lengan Rama sambil terus berjalan menuju kasir. “Ah, kamu ini nggak punya daya khayal. Padahal gemini harusnya punya daya khayal yang tinggi.”

Rama sedikit mengaduh, dan menyapu lengan kirinya. “Hmm, mungkin aku gemini murtad.”

Kali ini Shesa yang tertawa mendengar perkataan Rama. “Hahaha! Kamu juga aneh tau.”

Akhirnya setelah Shesa puas melihat-lihat bahan makanan, mereka berdua berjalan ke arah kasir yang hanya menerima sepuluh item belajaan setiap transasksinya, karena hanya disanalah counter kasir yang menjual rokok.

“Angka yang paling kamu suka?” Tiba-tiba Rama bertanya, membuat bahan pembicaraan baru selagi mengantri.

Shesa terdiam, berpikir. Bola matanya berputar, dan dahinya berkerut, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan Rama yang tiba-tiba.

“Enam, aku suka angka enam!”

“Kenapa? Karena Sushi tadi? Hahaha.”

“Bukan, dong.” Jawab Sesha sambil memukul kecil bahu Rama dengan belakang telapak tangannya.

“Terus, kenapa memilih enam?”

Shesa tersenyum, Sesha tidak langsung menjawab karena kini tiba bagi Rama untuk membayar rokoknya di cashier.

“Sampoerna Mild nya, Mbak. Dua.” Ucap Rama cepat sambil mengeluarkan dompetnya yg sejak tadi tersimpan di kantung belakang sebelah kanan jeansnya.

“Semuanya dua puluh dua ribu, Mas.”

Rama meraih selembar uang bergambar Otto Iskandar Dinata dan selembar uang bergambar Pangeran Antasari dan menyerahkannya. Tidak perlu menunggu kembalian.

“Terima kasih, Mas.”

“Sama-sama, Mbak. Selamat tahun baru, by the way.”

“Eh, iya, Mas. Selamat tahun baru juga.”

Setelah beberapa langkah Shesa tidak tahan untuk berkomentar. “Kamu ngucapin selamat tahun baru ke petugas cashier? So sweet banget.”

“Hahaha! Ya nggak apa-apa, kan? Kasian tau, lagi tahun baru begini dia kerja.”

“Iya, juga, yah. Apa perlu kita ajak ngobrol-ngobrol di Starbucks?”

“Ya, nggak perlu seramah itu juga kali.”

Tanpa dikomando, baik Rama dan Shesa tertawa, kali ini mereka tinggal berjalan lurus untuk mencapai kedai kopi internasional, Starbucks.

“Oh, iya. Kenapa enam?” Rama mendadak ingat pertanyaannya yang belum dijawab oleh Shesa.

“Karena enam batas yang sempurna, Ram.”

Giliran Rama yang mengerutkan dahinya, tanda tidak mengerti. Shesa tersenyum, tahu bila kalimatnya tidak dimengerti oleh Rama.

“Oke, gampangnya begini. Kalau kamu dapat nilai enam di, hmm, ulangan matematika. Kamu nggak remedial, tapi kamu punya motivasi untuk dapat lebih dari sekedar enam di ulangan berikutnya. Kamu nggak bisa sombong, karena masih ada nilai tujuh sampai sepuluh. Kamu dibuat bersyukur karena ada yang bernilai nol sampai lima.”

Rama terdiam, Shesa selesai berbicara. Mereka sudah sampai di depan pintu Starbucks.

“Mendadak, aku suka angka enam, nih.”

Shesa tertawa sambil membuka pintu Starbucks.

Sushi: California Roll

2 thoughts on “Enam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s