Perempuan di Halte Gelora Bung Karno

Hari ini lain.

Aku bertemu denganmu, bukan bukan, bukan bertemu denganmu, melainkan melihatmu. Berdiri di sana, seorang diri, entah menunggu apa atau siapa. Kau jangan marah, sepertinya aku jatuh cinta denganmu pada pandangan yang pertama. Klise? Biarlah, aku berhak merasa. Aku suka dengan caramu memandang hujan yang turun malam ini. Dengan caramu tersenyum, menolak seorang anak kecil yang menawarimu payung untuk mengantarkan kemana pun kau mau. Dengan caramu memutar pergelangan tangan kananmu untuk memeriksa waktu. Aku jatuh cinta saja. Aku tidak tahu namamu, dan aku tidak membutuhkan itu. Sebaiknya aku saja yang membuat nama untukmu. Hmm, bolehkah aku memanggilmu Perempuan Hujan? Tapi bukankah aku tidak memerlukan izin untuk memberimu nama kesayangan? Aku sedang tidak mengejekmu, aku hanya melihat kau seperti bersatu dengan hujan. Alasan yang sederhana, bukan?

Jadi, Perempuan Hujan, apa kabarmu hari ini? Apakah semua berjalan selayaknya yang sudah kau perkirakan? Adakah rencana yang terlewat hari ini? Sudahkah kau mencicipi nafas yang kuhela? Jarak kita tidak begitu jauh, tentu sejak tadi kita bertukar udara. Sudah kau tahu bahwa aku menyimpan rasa? Maaf, jika kau tidak merasakannya. Lagipula, aku tidak mau berbagi. Membagi rasa cintaku kepadamu, untukmu? Bukankah itu janggal? Biarlah menjadi tugasku saja untuk mengagumimu. Mencintaimu.

Selamat malam, Perempuan Hujan. Bis yang akan membawaku pulang ke rumah telah datang.

Besok? Waktu yang sama?

Kencan Tanpa Mata

Bukankah malam itu sangat menyenangkan?

Aku ingat bagaimana caramu mengulurkan tangan, menjabat tanganku yang masih sembab karena aku terlalu malas mengeringkannya dengan mesin pengering.

Kau datang terlambat, aku sudah menghabiskan kentang goreng yang kupesan asal-asalan demi memeriahkan meja, memberikan teman kepada es teh manis yang kini juga sudah kandas.

Tidak apa-apa, toh, kau terlihat cantik. Aku tidak keberatan menunggu lebih lama bila waktu menungguku berbanding lurus dengan paras yang kau bawa.

Kita berbicara seadanya, basa-basi perkenalan yang kali ini tidak terdengar basi untuk dikonsumsi oleh telingaku. Aku tertarik, seakan suara yang kau hasilkan adalah gravitasi.

Aku tertawa, kau juga. Tidak terasa es teh manis kedua untukku sudah hilang. Begitupun cokelat panas yang tadi kau pesan. Kencan tanpa mata pertama bagimu, pun bagiku mengalir begitu saja. Dan waktu selalu selangkah lebih maju.

Kau ingat betapa sederhananya malam itu? Sebuah cafe kecil yang pengunjungnya tidak seberapa, dengan tiga pelayan, itu pun bila yang menjaga mesin ekonomi masuk ke dalam hitungan, menjadi tempat kenangan yang tidak bisa diusik dari ingatanku.

Bagian kesukaanku dari malam itu, selain kau tentunya, adalah saat kita membuat skenario untuk diceritakan kepada sahabatku dan sahabatmu. Kita memilih untuk merahasiakan bahwa kita saling tertarik. Agar mereka tidak terlalu semangat, begitu katamu.

Aku tertawa, kau juga. Sampai akhirnya, tibalah waktunya untuk pulang. Kita tidak mau berpisah dulu, masih merasa perlu untuk saling mencari tahu, tapi kita juga tahu, masih banyak waktu. Tidak perlu buru-buru.

Kau keberatan untuk diantar pulang. Merepotkan, begitu alasanmu. Aku tidak memaksa. Akhirnya kita menunggu taksi di depan cafe kecil itu, melanjutkan sedikit kegiatan mencari tahu.

Aku akan mengabarkan sesampainya di rumah, begitu katamu saat masuk ke dalam mobil berwarna biru. Tidak perlu aku mengingatkan, kau sudah menyiapkan kalimatnya.

Sepanjang jalan pulang, kita menyulam kejadian yang baru kita lewati. Mengulang adegan pertama saat bertemu mata, sampai lambaian tangan di pinggir jalan. Tersenyum senang.

Lalu setibanya di rumah, kita kembali melihat hasil sulaman yang tadi kita buat, memeriksanya apakah sudah sempurna sesuai contoh. Bila tidak, kita menambahnya.

“Aku sudah sampai, malam ini menyenangkan, terima kasih.”

Pesan singkat itu begitu sederhana, tidak kekurangan tidak berlebihan, kalimat itu cukup. Dan masih tersimpan di telepon genggamku sampai sekarang.

Kemudian kita bersiap untuk tidur, dan kita akan melewati bagian keempat di kejadian yang sama tanpa berpikir bahwa itu deja vu.

Malam itu begitu menyenangkan, aku tahu kau setuju. Karena kita sudah melewatinya, mengulang kejadiannya, memperbaiki hasil ulangannya, dan akan kembali menikmatinya sebelum tidur.

“Benar, malam ini menyenangkan. Terima kasih, dan selamat tidur.”

Sent.

Delivered.

Bukankah malam itu begitu menyenangkan?

Kuat

“Loh, kok balik lagi?” Barista Starbucks yang bernama Patra, yang kebetulan teman semasa SMA Rama, menegur dengan senyum tepat di belakang mesin cashier ketika Rama dan Shesa sampai di sana.

“Nggak boleh? Ya udah, gue cabut, nih.” Jawab Rama sambil tertawa.

Patra, yang tahu bahwa itu hanya candaan kasual dari Rama, tidak mengubrisnya, dia tahu bahwa Starbucks satu-satunya tempat yang paling tenang di Cilandak Town Square sekarang, karena hall yang menjadi ciri khas mall di Jakarta Selatan ini berubah menjadi ajang rave party bagi mereka yang -mungkin- tidak bisa membayar masuk ke club.

“So, kamu yang cantik mau pesan apa? Kalo si freak ini gue yakin banget bakalan Espresso Macchiato.” Patra berbicara tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rama yang sekarang tertawa terbahak-bahak.

Shesa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Patra, berpikir minuman apa yang tepat untuk menemaninya menghabiskan malam ini. Terlalu banyak tulisan yang tergantung tepat di belakang Patra, semuanya enak terbaca. Sebelumnya, Shesa memasan Chocolate Cream Chip, dan itu satu-satunya minuman yang pernah dia coba di Starbucks. Shesa tidak pernah memesan minuman lain! Baginya, bila sudah menemukan sesuatu yang pas, untuk apalagi mencoba yang lain.

“Chocolate Cream Chip.” Ucap Shesa akhirnya, membuat percakapan Rama dan Patra terhenti.

“Sip! Tunggu sebentar, yah. Oh, by the way, kali ini, on me.” Tanpa menunggu komentar dari Rama ataupun Shesa, Patra dengan segera membuat pesanan kedua temannya itu.

Baik Rama maupun Shesa kini berjalan menuju tempat pengambilan pesanan yang ada di samping sebelah kiri mereka, agar pembeli berikutnya bisa memesan.

“Kenapa pesen itu lagi?”

“Kamu juga mesen minuman yang sama kayak tadi.” Jawab Shesa tersenyum.

“Karena aku memang mau itu, tanpa berpikir.” Balas Rama sambil mengambil BlackBerrynya yang bergetar, menandakan ada pesan yang masuk. Rama membacanya cepat, lalu kembali memasukannya ke kantung celana jeansnya. “Sedangkan kamu tadi berpikir dulu, tidak yakin apa yang kamu mau.”

Shesa terkejut. Semudah itu kah membaca apa yang ada dipikirannya? Bukan kah memilih menu lalu memutuskan itu hal yang biasa? Tapi kenapa Rama begitu yakin bahwa diamku sebelum memutuskan memiliki maksud tersendiri.

“Aku tidak suka dengan pilihan. Pilihan membuat rumit.”

“Berarti kamu nggak suka soal pilihan ganda, yah?”

Baik Rama maupun Shesa tertawa.

“Dan kamu suka menjawab pilihan dengan ‘terserah’ karena bagi kamu semua sama saja.” Lanjut Rama.

Shesa masih juga terdiam, tidak mejawab, tetap mendengarkan. Hanya karena Chocolate Cream Chip pribadinya langsung terbaca oleh Rama. Sial! Rama terlalu pandai membaca gerak tubuh, batin Shesa berteriak. Tapi hanya senyum yang dapat dia tampilkan di depan Rama.

“Mau tukeran minuman nggak?”

Shesa mencari mata Rama, tertarik dengan apa yang ditawarkan. Bertukar minuman? Dan ini akan menjadi kopi pertamanya di dunia. Shesa tidak pernah meminum kopi sebelumnya, bahkan memakan permen Kopiko dia tidak pernah. Tidak tertarik dengan warna pekat pada kopi.

Shesa mengangguk, berdebar menunggu kopinya yang pertama.

“Satu Espresso Machiatto dan satu Chocolate Cream Chip.” Suara Patra membuyarkan lamunan Shesa. Minuman berwarna hitam itu tercium dengan jelas.

Rama nyaris tertawa melihat ekspresi Shesa yang terpukau melihat minuman yang kini menjadi miliknya. Dengan santai Rama mengambil Chocolate Cream Chip-nya, “Yuk!” Ajak Rama kepada Shesa untuk keluar, duduk di smoking area Starbucks.

Sesampainya di tempat duduk, Rama masih tersenyum melihat Shesa yang kebingungan dengan minumannya.

“Kamu tau nggak asal muasal kata Kopi?”

Shesa menggeleng dan melemparkan senyumnya, dia belum juga mencoba Espresso Machiatto.

Kopi itu berasal dari bahasa Arab, qahwah, kemudian mengalami perubahan menjadi kahveh di Turki. Dan akhirnya menjadi koffie di Belanda.”

“Arab? Wow, sekarang aku jadi tau kenapa namanya Arabika.” Komentar Shesa, terpukau dengan penjelasan Rama.

“Iya, bener. Kopi Arabika, kopi terbaik, hahaha.” Jawab Rama sambil menyeruput Chocolate Cream Chip-nya. “Oh iya, aku lupa. Qahwah itu artinya kekuatan dalam bahasa Arab.”

“Kekuatan?”

“Iya, aku juga nggak tau, kenapa kopi dibilang kekuatan. Tapi yang aku tau, kopi itu bisa menurunkan risiko penyakit kanker, jantung, dan diabetes, loh.” Lanjut Rama masih menjelaskan.

“Oke oke, cukup iklannya. Aku cobain, nih. Kamu do’ain dong.”

“Hahaha! Iya iya, silakan.”

Dan akhirnya Shesa menyeruput sedikit cairan yang berada di cangkirnya. Rama menunggu, kali ini dia ikut berdebar.

“Enak!” Kata Shesa akhirnya.

Dan Rama tertawa terbahak-bahak. Shesa ikut tertawa, awal tahun yang menyenangkan, mencicipi kekuatan, dan memiliki kekuatan untuk mencoba hal baru.

Coffee Beans