Kencan Tanpa Mata

Bukankah malam itu sangat menyenangkan?

Aku ingat bagaimana caramu mengulurkan tangan, menjabat tanganku yang masih sembab karena aku terlalu malas mengeringkannya dengan mesin pengering.

Kau datang terlambat, aku sudah menghabiskan kentang goreng yang kupesan asal-asalan demi memeriahkan meja, memberikan teman kepada es teh manis yang kini juga sudah kandas.

Tidak apa-apa, toh, kau terlihat cantik. Aku tidak keberatan menunggu lebih lama bila waktu menungguku berbanding lurus dengan paras yang kau bawa.

Kita berbicara seadanya, basa-basi perkenalan yang kali ini tidak terdengar basi untuk dikonsumsi oleh telingaku. Aku tertarik, seakan suara yang kau hasilkan adalah gravitasi.

Aku tertawa, kau juga. Tidak terasa es teh manis kedua untukku sudah hilang. Begitupun cokelat panas yang tadi kau pesan. Kencan tanpa mata pertama bagimu, pun bagiku mengalir begitu saja. Dan waktu selalu selangkah lebih maju.

Kau ingat betapa sederhananya malam itu? Sebuah cafe kecil yang pengunjungnya tidak seberapa, dengan tiga pelayan, itu pun bila yang menjaga mesin ekonomi masuk ke dalam hitungan, menjadi tempat kenangan yang tidak bisa diusik dari ingatanku.

Bagian kesukaanku dari malam itu, selain kau tentunya, adalah saat kita membuat skenario untuk diceritakan kepada sahabatku dan sahabatmu. Kita memilih untuk merahasiakan bahwa kita saling tertarik. Agar mereka tidak terlalu semangat, begitu katamu.

Aku tertawa, kau juga. Sampai akhirnya, tibalah waktunya untuk pulang. Kita tidak mau berpisah dulu, masih merasa perlu untuk saling mencari tahu, tapi kita juga tahu, masih banyak waktu. Tidak perlu buru-buru.

Kau keberatan untuk diantar pulang. Merepotkan, begitu alasanmu. Aku tidak memaksa. Akhirnya kita menunggu taksi di depan cafe kecil itu, melanjutkan sedikit kegiatan mencari tahu.

Aku akan mengabarkan sesampainya di rumah, begitu katamu saat masuk ke dalam mobil berwarna biru. Tidak perlu aku mengingatkan, kau sudah menyiapkan kalimatnya.

Sepanjang jalan pulang, kita menyulam kejadian yang baru kita lewati. Mengulang adegan pertama saat bertemu mata, sampai lambaian tangan di pinggir jalan. Tersenyum senang.

Lalu setibanya di rumah, kita kembali melihat hasil sulaman yang tadi kita buat, memeriksanya apakah sudah sempurna sesuai contoh. Bila tidak, kita menambahnya.

“Aku sudah sampai, malam ini menyenangkan, terima kasih.”

Pesan singkat itu begitu sederhana, tidak kekurangan tidak berlebihan, kalimat itu cukup. Dan masih tersimpan di telepon genggamku sampai sekarang.

Kemudian kita bersiap untuk tidur, dan kita akan melewati bagian keempat di kejadian yang sama tanpa berpikir bahwa itu deja vu.

Malam itu begitu menyenangkan, aku tahu kau setuju. Karena kita sudah melewatinya, mengulang kejadiannya, memperbaiki hasil ulangannya, dan akan kembali menikmatinya sebelum tidur.

“Benar, malam ini menyenangkan. Terima kasih, dan selamat tidur.”

Sent.

Delivered.

Bukankah malam itu begitu menyenangkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s