Perempuan di Halte Gelora Bung Karno

Hari ini lain.

Aku bertemu denganmu, bukan bukan, bukan bertemu denganmu, melainkan melihatmu. Berdiri di sana, seorang diri, entah menunggu apa atau siapa. Kau jangan marah, sepertinya aku jatuh cinta denganmu pada pandangan yang pertama. Klise? Biarlah, aku berhak merasa. Aku suka dengan caramu memandang hujan yang turun malam ini. Dengan caramu tersenyum, menolak seorang anak kecil yang menawarimu payung untuk mengantarkan kemana pun kau mau. Dengan caramu memutar pergelangan tangan kananmu untuk memeriksa waktu. Aku jatuh cinta saja. Aku tidak tahu namamu, dan aku tidak membutuhkan itu. Sebaiknya aku saja yang membuat nama untukmu. Hmm, bolehkah aku memanggilmu Perempuan Hujan? Tapi bukankah aku tidak memerlukan izin untuk memberimu nama kesayangan? Aku sedang tidak mengejekmu, aku hanya melihat kau seperti bersatu dengan hujan. Alasan yang sederhana, bukan?

Jadi, Perempuan Hujan, apa kabarmu hari ini? Apakah semua berjalan selayaknya yang sudah kau perkirakan? Adakah rencana yang terlewat hari ini? Sudahkah kau mencicipi nafas yang kuhela? Jarak kita tidak begitu jauh, tentu sejak tadi kita bertukar udara. Sudah kau tahu bahwa aku menyimpan rasa? Maaf, jika kau tidak merasakannya. Lagipula, aku tidak mau berbagi. Membagi rasa cintaku kepadamu, untukmu? Bukankah itu janggal? Biarlah menjadi tugasku saja untuk mengagumimu. Mencintaimu.

Selamat malam, Perempuan Hujan. Bis yang akan membawaku pulang ke rumah telah datang.

Besok? Waktu yang sama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s