Bila Rindu

Sekali lagi aku rindu.
Wajahmu sulit aku hilangkan dari hati.
Mengapa bayangmu selalu hadir?
Selalu berhasil mengisi kekosongan diri.

Sekali lagi aku rindu.
Suaramu tidak terbantahkan menggema telinga.
Mengapa kamu selalu beresonansi?
Selalu berhasil menyenandungkan cerita.

Bila rindu dinilai menggunakan deret hitung, maka rinduku tidak akan habis terhitung.
Bila rindu dijabarkan dengan deret aksara, maka rinduku tidak akan habis terbaca.

Sekali lagi aku rindu.
Sentuhanmu masih terasa menyengat kulit.
Tapi terasa, bukanlah nyata.
Hadirlah lagi dengan tegas.

Karena bila rindu dipadankan dengan alam semesta, maka rinduku tidak akan habis dipelajari manusia.

Kuta, 30 Juli 2012

Advertisements

Taman Langit Yang Tersembunyi Di Balik Awan

Aku kembali terdiam, barusan wanita yang kupuja pulang. Dia membawakan masakan kesukaanku, membuatku tidak tahan untuk mencicipinya seketika, saat itu juga. Wanita yang kau cintai mengerti bagaimana caranya membuatmu bahagia? Aku pasti lah orang paling beruntung di dunia. Tidak ada yang boleh melarangku untuk bahagia malam ini. Tuhan sedang berbaik hati, melimpahkan aku dengan rezeki. Tidak masalah bila besok aku tertimpa musibah lagi, yang penting hari ini aku sudah berjabat tangan dengan bahagia.

Tadi Ibu datang, berpesan agar tidak lupa sembahyang, katanya boleh sesekali meminta kepada Tuhan. Asal jangan serakah. Mintalah yang memang dibutuhkan, bukan yang diinginkan. Aku mengerti, Ibu takut hubunganku dengan Tuhan tidak baik seperti dulu. Aku terlalu bahagia, terlalu perkasa untuk memuja Tuhan. Maka sejak tadi, tidak ada sembahyang yang aku lewatkan. Aku senang berburu adzan. Kali ini bukan untuk Ibu, tapi untukku.

Ayah juga menemani, katanya tidak perlu lah aku mengejar dunia. Tidak akan habis kukejar. Laki-laki tua yang paling aku kagumi memang jarang berkata-kata, beliau lebih senang bertindak. Seperti saat aku ketahuan mencuri buah mangga tetangga sebelah, Ayah tidak marah, beliau meminta maaf kepada bapak tetangga, lalu didiamkannya aku seminggu, tidak dibantu mengerjakan PR matematika sampai akhirnya aku kesulitan sendiri. Setelah aku meminta maaf kepada bapak tetangga atas inisiatifku sendiri, Ayah baru bisa tersenyum. Beliau kemudian cuma bilang, orang yang berani meminta maaf berarti sudah setingkat lebih dewasa. Sudah, begitu saja. Semuanya kembali seperti sedia kala.

Surat-surat datang mengabari, katanya mereka rindu kepadaku. Mereka tidak pernah tahu, aku lebih rindu. Makanya, demi mereka aku memutar kata-kata di kepala, mencoba merajut apa yang bisa disulut, mempersiapkan sebuah hadiah. Surat-surat yang tiap malam tidak pernah habis kubaca itu semakin menumpuk, aku tidak menjadikannya beban, aku senang membaca pemikiran mereka. Mereka hebat.

Kemudian mereka yang tidak pernah secara langsung menyebut diri mereka sahabat juga mengunjungiku. Kejadian memang tidak perlu diyakinkan dengan kata-kata. Cukup bagi mereka dan aku menghabiskan waktu bersama, tertawa riang, menertawakan dunia, merasa paling bijaksana, resmilah kami semua bersahabat. Mereka tidak bawa buah tangan seperti wanitaku, atau Ayah dan Ibu, mereka hanya membawa cerita untuk dibagi, dimengerti secara bersama, kemudian memikirkan bagaimana caranya membuat karya.

“Waktu kujungan sudah habis!” Sipir berteriak, aku hanya tersenyum. Para sahabatku kecewa.

“Ya udah, besok kan bisa ke sini lagi. Gue tunggu progres aransemennya.” Begitu kataku menjawab kekecewaan wajah sahabat-sahabatku.

Aku di balik jeruji? Mungkin cuma kalian yang membenciku berpikir begitu. Karena sebenarnya aku sedang berada di balik awan, tempat taman langit bersembunyi, aku menjadi Tuhan, tahu siapa yang baik kepadaku siapa yang tidak. Tempat pertahanan terbaik. Kelak nanti aku keluar, aku bisa memilah bagaimana nanti bertindak dengan tiap manusia yang berprasangka kepadaku. Untuk itu, aku bersyukur.

Katakan Dengan Rindu

Saya rindu.
Jarak bukan penghalang, dinding tak kasat mata yang membuat kita berseberang.
Walaupun tidak pernah ada kita, saya ingat itu. Yang ada, saya dan kamu membicarakan cinta. Lalu terbawa suasana.

Saya benar-benar rindu.
Kemarin tetesannya masih sederhana, malam ini tidak, dijatuhkannya bertubi-tubi. Rasa kenangan ternyata pahit. Saya kembali diam-diam mendoakan kebahagianmu sebelum tidur.

Rindu saya padamu.
Tidak berani menyapa karena gentar menganggu. Boleh kah saya sombong dengan berharap bahwa kamu berharap saya akan menyapa? Kemudian tawa mengeluh karena candaan saya tak lucu.

Saya sudah rindu.
Langit lupa bagaimana caranya menghadirkan romantis. Yang diperlihatkan hanya gulita yang diam. Saya kelam. Hati berontak untuk keluar dari dada, rela menyerahkan diri kepadamu.

Ambil hati saya.
Dia mengatakan rindu dengan sempurna.

Cinta Paksa

Diketuknya tanah dengan kaki. Pedas rasanya setelah berkali-kali. Bisa bukan karena biasa, tapi karena terpaksa. Bagaimana rasanya memaksakan cinta?

Kalajengking melengking dengan bisanya. Membuat apa yang dipompa jantung tidak lagi sehat untuk dialirkan ke segela penjuru. Ke mana perginya cinta? Kata mereka, dia menawarkan racun. Dusta!

Tidak perlu kesepakatan dari manusia yang lain untuk menilai cinta kita. Tapi ikatan darah punya kuasa. Kita bisa apa? Besok kita mati saja. Bagaimana?

Jangan Lagi Kau Datang

Jangan lagi kau datang tanpa permisi. Aku sudah terlampau lelah mengubur pemakaman cintaku sendiri. Cari dia yang lain untuk kau jemput kematiannya. Untuk pertama, aku yakin dia tidak akan keberatan.

Jangan lagi kau datang tanpa diundang. Pesta hatiku tidak menerima tamu yang berniat menganggu. Hadirlah ke acara hati yang lain untuk kau tertawakan. Untuk permulaan, aku yakin hati itu tahan.

Jangan lagi kau datang tanpa salam. Telingaku sudah kebas mendengar suaramu bahkan sejak dari kejauhan. Bersalam lah untuk yang belum pernah mendengarkan bualanmu. Untuk awal, aku yakin suaramu merdu.

Lagi, jangan lagi kau datang.

Kaya

Seharusnya semakin larut, semakin sepi. Tapi ini adalah malam pergantian tahun, semua orang memberikan pengecualian kepada malam ini. Guru TK tidak akan lagi menuliskan tahun 2011 di papan tulis besok pagi. Semua telepon genggam yang pengaturannya benar tidak akan berputar di angka 2011 lagi. Bank sudah mencatat pembukuan pemasukan dan pengeluaran yang terjadi di tahun 2011. Sudah tidak bisa diganggu gugat, 2011 sudah lewat.

“Harapan kamu di tahun ini apa?” Rama meneguk minumannya, pandangannya tidak ke arah Shesa. Rama menikmati pemandangan seorang anak kecil yang sedang memainkan balon gas berbentuk SpongeBob.

Shesa mengikuti arah pandangan Rama dan tersenyum. “Sama seperti tahun lalu, semoga aku kaya.”

Rama langsung menoleh, tidak menyangka jawaban Shesa akan sesederhana itu, tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Shesa yang mengerti dengan tatapan Rama tertawa. “Hahaha, nggak usah segitunya, Ram.”

“Ya lagian kamu, jawabannya gitu doang.”

“Tuh kan, berarti kaya versi kamu sama versi aku beda. Kamu liat anak kecil itu, kan?”

Rama kembali menoleh ke arah anak kecil yang sedang memainkan balon gas berbentuk SpongeBob. “Iya, aku liat. Kenapa emangnya?”

“Aku sangat yakin, kaya versi anak kecil itu adalah punya balon gas berbentuk SpongeBob.”

Rama mengangguk, mulai mengerti apa yang dimaksud Shesa dengan kaya. Bukan materi seperti apa yang tadi sempat dia pikirkan. Kata kaya memang tidak sesederhana kelihatannya. Kaya lahir memang perlu, tapi kaya bathin lah yang seseungguhnya kaya. Dan bukan perkara mudah untuk mendapatkan kekayaan bathin.

“Terus, kalo kamu? Harapan kamu tahun ini apa, Ram?”

“Lulus kuliah! Sumpah, akademik ini masalah paling ganggu dalam hidup aku, Sa.”

Shesa tertawa terbahak-bahak.

Tuhan

“Patra baik banget nraktir kita.” Kata Shesa, masih terus meneguk minuman kopinya yang pertama di dunia.

“Kamu kalau tau berapa banyak uang yang ada di mesin kasir itu pasti nggak akan mikir kalau Patra itu baik.” Balas Rama sambil tertawa.

Shesa heran, alisnya terangkat. “Maksud kamu?”

Rama tersenyum sambil mulai membuka plastik Sampoerna Mild, “Saking banyaknya uang di mesin kasir itu, Patra nggak akan ketahuan nyelundupin dua minuman gratis. Kita bukan ditraktir Patra, kita lagi ditraktir Starbucks.”

“Hahaha! Jadi kalau aku mau bilang terima kasih, ke siapa dong?”

“Hmm, ke Tuhan, aja. Atau kalau kamu mau ngirim e-mail ke yang punya Starbucks, ya, silakan.”

Shesa tiba-tiba terdiam. Tuhan?

“Kenapa? Kok diam?” Rama yang menyadari perubahan wajah Shesa, bertanya.

“Kamu percaya Tuhan, Ram?”

Rama tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Shesa, pertanyaan macam apa itu? Kamu atheis?”

“Jadi kamu percaya?” Shesa tetap serius, tidak bisa ikut tertawa dengan Rama kali ini.

“Tuhan yang mana dulu?” Rama tersenyum jahil.

Shesa ikut tersenyum, menyadari bahwa lawan bicaranya pasti seorang yang sangat terbuka sampai berani bertanya ‘yang mana’ sebagai jawaban. “Yang mana aja, Ram.” Jawab Shesa akhirnya.

“Oke, gampang. Aku percaya Tuhan, yang mana pun, karena aku percaya dengan sebab akibat. Kamu tahu, tidak mungkin ada ciptaan tanpa pencipta.”

Shesa mengangguk, setuju. Jawaban itu cukup bagi Shesa, ternyata Rama memilih untuk memahami bahwa apapun yang ada di dunia ini pastilah ada yang menciptakan, tidak hanya ada begitu saja, sama seperti dirinya.

“Terus, kamu percaya adanya surga dan neraka?” Lanjut Shesa.

Rama yang baru saja akan membakar rokoknya kembali tertahan, tangannya kembali turun. Lagi-lagi pertanyaan yang perlu dipikirkan sebelum dijawab. Rama berpikir, menyiapkan jawaban terbaiknya. Sampai akhirnya dia memilih untuk membakar rokoknya terlebih dahulu.

“Gimana, Ram?” Shesa tidak sabar dengan jawaban Rama.

Rama masih berpikir, setelah tiga kali tarikan pada rokoknya, Rama bisa menjawab. “Oke, aku percaya. Aku percaya adanya surga dan neraka.”

“Kenapa?”

“Aku nggak punya gambaran lain setelah mati mau pergi ke mana, kecuali ke surga atau neraka.”

“Reinkarnasi?”

Rama menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Itu menarik, sih. Tapi, apa nggak bosen ngulang kehidupan?”

Giliran Shesa yang tertawa mendengar jawaban Rama. Membuat Rama merasa kesal karena diremehkan jawabannya.

“Aku serius. Paling kalo nanti aku reinkarnasi, akan seperti ini lagi. Ketemu masalah yang sama: lahir, sekolah, kerja, nikah, punya anak, mati.”

Shesa semakin tertawa, “Hahaha! Oke oke, terus kamu mau masuk mana, surga atau neraka?”

“Ya, neraka dong.”

Shesa yang belum selesai tertawa langsung tersentak, diam. Dengan cepat otak Shesa berpikir alasan kenapa Rama memilih neraka dari pada surga. Jawaban yang mengalir cepat tanpa Rama pikirkan sama sekali, tidak seperti pertanyan-pertanyaan sebelumnya, mampu membuat Shesa terkejut. Atau mungkin, ajaran agama Rama memiliki sudut pandang yang berbeda dengan ajaran agama Shesa? Neraka itu surga, surga itu neraka?

“Kenapa, Ram? Kenapa kamu milih neraka?” Tanya Shesa akhirnya.

Rama tersenyum, “Aku anti-mainstream.”

Shesa tertawa terbahak-bahak. Malam belum selesai, masih banyak waktu untuk menanyakan Rama tentang Tuhan.