Taman Langit Yang Tersembunyi Di Balik Awan

Aku kembali terdiam, barusan wanita yang kupuja pulang. Dia membawakan masakan kesukaanku, membuatku tidak tahan untuk mencicipinya seketika, saat itu juga. Wanita yang kau cintai mengerti bagaimana caranya membuatmu bahagia? Aku pasti lah orang paling beruntung di dunia. Tidak ada yang boleh melarangku untuk bahagia malam ini. Tuhan sedang berbaik hati, melimpahkan aku dengan rezeki. Tidak masalah bila besok aku tertimpa musibah lagi, yang penting hari ini aku sudah berjabat tangan dengan bahagia.

Tadi Ibu datang, berpesan agar tidak lupa sembahyang, katanya boleh sesekali meminta kepada Tuhan. Asal jangan serakah. Mintalah yang memang dibutuhkan, bukan yang diinginkan. Aku mengerti, Ibu takut hubunganku dengan Tuhan tidak baik seperti dulu. Aku terlalu bahagia, terlalu perkasa untuk memuja Tuhan. Maka sejak tadi, tidak ada sembahyang yang aku lewatkan. Aku senang berburu adzan. Kali ini bukan untuk Ibu, tapi untukku.

Ayah juga menemani, katanya tidak perlu lah aku mengejar dunia. Tidak akan habis kukejar. Laki-laki tua yang paling aku kagumi memang jarang berkata-kata, beliau lebih senang bertindak. Seperti saat aku ketahuan mencuri buah mangga tetangga sebelah, Ayah tidak marah, beliau meminta maaf kepada bapak tetangga, lalu didiamkannya aku seminggu, tidak dibantu mengerjakan PR matematika sampai akhirnya aku kesulitan sendiri. Setelah aku meminta maaf kepada bapak tetangga atas inisiatifku sendiri, Ayah baru bisa tersenyum. Beliau kemudian cuma bilang, orang yang berani meminta maaf berarti sudah setingkat lebih dewasa. Sudah, begitu saja. Semuanya kembali seperti sedia kala.

Surat-surat datang mengabari, katanya mereka rindu kepadaku. Mereka tidak pernah tahu, aku lebih rindu. Makanya, demi mereka aku memutar kata-kata di kepala, mencoba merajut apa yang bisa disulut, mempersiapkan sebuah hadiah. Surat-surat yang tiap malam tidak pernah habis kubaca itu semakin menumpuk, aku tidak menjadikannya beban, aku senang membaca pemikiran mereka. Mereka hebat.

Kemudian mereka yang tidak pernah secara langsung menyebut diri mereka sahabat juga mengunjungiku. Kejadian memang tidak perlu diyakinkan dengan kata-kata. Cukup bagi mereka dan aku menghabiskan waktu bersama, tertawa riang, menertawakan dunia, merasa paling bijaksana, resmilah kami semua bersahabat. Mereka tidak bawa buah tangan seperti wanitaku, atau Ayah dan Ibu, mereka hanya membawa cerita untuk dibagi, dimengerti secara bersama, kemudian memikirkan bagaimana caranya membuat karya.

“Waktu kujungan sudah habis!” Sipir berteriak, aku hanya tersenyum. Para sahabatku kecewa.

“Ya udah, besok kan bisa ke sini lagi. Gue tunggu progres aransemennya.” Begitu kataku menjawab kekecewaan wajah sahabat-sahabatku.

Aku di balik jeruji? Mungkin cuma kalian yang membenciku berpikir begitu. Karena sebenarnya aku sedang berada di balik awan, tempat taman langit bersembunyi, aku menjadi Tuhan, tahu siapa yang baik kepadaku siapa yang tidak. Tempat pertahanan terbaik. Kelak nanti aku keluar, aku bisa memilah bagaimana nanti bertindak dengan tiap manusia yang berprasangka kepadaku. Untuk itu, aku bersyukur.

One thought on “Taman Langit Yang Tersembunyi Di Balik Awan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s