Soleram, Cerita yang Tidak Pernah Diceritakan

Sabtu malam yang biasa, saat aku mengunjungi rumah kekasihku, terjadi satu pembicaraan yang seru. Di teras rumahnya, kekasihku bercerita tentang teman masa kecilnya yang bernama Soleram. Sama seperti kalian, aku langsung tertawa saat kekasihku menyebutkan nama itu. Soleram? Aku tidak percaya bahwa benar ada manusia yang diberkahi nama itu. Semua orang di negeri ini tahu siapa Soleram, si anak manis yang tidak boleh dicium.

Masih dengan tawa, aku pun bertanya kepada kekasihku, apakah pipi Soleram temannya itu berubah merah bila dicium? Tapi kekasihku tidak tertawa. Dia memukul pelan bahuku, kesal karena belum juga bercerita sudah dicela. Maka aku berusaha diam, mencoba memupuskan imajinasi bagaimana wajah Soleram yang pipinya merah, dan mulai mendengarkan kekasihku bercerita.

***

Saat itu aku masih duduk di Sekolah Dasar, kelas empat. Soleram adalah murid pindahan di sekolahku. Aku lupa bagaimana caranya aku bisa berkenalan dengan Soleram, yang jelas aku sempat tertawa mendengar logat Soleram. Kata guruku, Soleram berasal dari Sumatera, maka logatnya seperti itu. Walaupun sempat digoda dan dicela oleh teman-teman sekelasku yang nakal karena logatnya yang aneh, Soleram menanggapinya dengan santai, wajahnya penuh senyum, dia tidak pernah marah. Kalau aku di posisi Soleram, mungkin aku sudah menangis dan mengadu kepada guru dan orangtuaku.

Kenangan yang paling aku ingat tentang Soleram sebenarnya terjadi saat aku lupa membawa topi saat upacara bendera di hari Senin. Soleram yang melihat kegelisahanku mencari-cari topi berwarna merah memberikan topinya kepadaku. Aku sempat bingung, bila aku memakai topi Soleram, maka Soleram menggunakan topi siapa? Aku tidak mungkin membiarkan Soleram berdiri di depan lapangan upacara karena melakukan pelanggaran, tidak mengenakan topi saat upacara. Soleram belum genap dua bulan menjadi siswa di sekolahku saat itu.

“Aku kan Dokter, aku berdiri di barisan belakang, tidak memerlukan topi.” Dengan logat yang masih membuatku tertawa, Soleram menjelaskan.

Saat itu aku baru tahu bila sejak masuk ke sekolahku, Soleram sudah mendaftarkan diri menjadi dokter kecil. Terjawablah mengapa aku tidak pernah melihat Soleram di dalam barisan kelasku saat upacara berlangsung, selain aku juga tidak begitu memperhatikan.

Tak habis-habisnya aku berterima kasih kepada Soleram setelah upacara selesai dan kami kembali masuk ke dalam kelas. Sejak itu, aku menjadi akrab dengan Soleram. Aku suka mengajak Soleram ke kantin bila waktu istirahat tiba, walaupun kadang Soleram menolaknya dengan alasan membawa bekal dari rumah.

Naik ke kelas lima, aku duduk bersama Soleram. Soleram sungguhlah cerdas, dia masuk ranking tiga besar di kelasku dari caturwulan pertama hingga ketiga. Saat hari pendidikan nasional digelar di kantor walikota, Soleram menjadi salah satu delegasi perlombaan cerdas cermat dari sekolahku. Aku yang duduk sebagai pendukung saat perlombaan itu digelar bangga melihat temanku, teman satu mejaku, begitu pandai serta percaya diri menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan juri. Dan apakah kamu tahu? Sekolah kami menang! Soleram dan timnya, dua temanku yang lain, berhasil mendapatkan piala, membuat sekolah bangga.

***

“Juaranya dapet piala aja? Nggak dapet duit?” Aku bertanya jenaka, memotong kekasihku yang sudah mulai berapi-api menceritakan tentang teman sebangkunya sewaktu kelas lima.

Kekasihku tidak menjawab, dia malah mencubit perutku.

“Aww!”

“Ya lagian, lagi cerita kok dipotong?”

Aku berjanji tidak akan memotong pembicaraan kekasihku lagi. Cubitannya sakit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s