Tahu Diri

Ini adalah permintaan maafku karena diam-diam aku pernah berani bermimpi memilikimu.

Mimpi yang terlalu tinggi, tapi memang sebuah gagasan yang menyenangkan membayangkan kamu sebagai kekasihku. Maaf, aku kesulitan menolak berbahagia dengan pikiranku sendiri. Mungkin akan terdengar seperti sebuah pembelaan bila aku berkata bahwa kita sudah berbagi begitu banyak malam, sudah terlalu banyak cerita, terlau banyak impian, dan terlalu banyak cita-cita yang kita aminkan bersama yang akhirnya membuat aku berani untuk memimpikanmu menjadi kekasihku.

Bukankah cinta datang karena biasa? Dan memang salahku lah membiasakan diri berada di sisimu.

Kini sudah saatnya aku tahu diri bahwa mimpi itu tidak lah mungkin. Memang sepertinya lebih mustahil jika dibandingkan cita-citaku yang ingin menjadi penyair, cita-cita yang selalu kamu tertawai. Aku harus kembali memijak bumi dan menghentikan kesenanganku melukis langit. Demi kebaikanku, dan mungkin kebaikanmu.

Bisa jadi ini adalah caraku untuk undur diri dari kehidupanmu. Ternyata sakit rasanya melihatmu berbahagia. Ternyata hatiku tidak sebesar itu. Ternyata cinta harus memiliki. Karena itu, jangan mencariku lagi, demi apa pun. Mungkin ini kesempatan bagiku untuk menciptakan malam panjang yang lain bersama orang yang menginginkan aku sebagai kekasihnya. Yang mau menerimaku apa adanya. Yang mau memberikan segalanya bahkan tanpa aku pinta. Persis seperti yang dulu aku lakukan kepadamu.

Aku menyerah. Aku selesai menyiksa diri sendiri.

Usahakanlah untuk berbahagia sendiri tanpa mengajakku. Aku sudah ingin tidak peduli. Bantulah aku untuk berhasil dengan tidak terus hadir di hadapanku. Karena bukan suatu hal yang mudah bagiku untuk melihatmu terus menerus seperti ini. Kita tidak pernah bersama di saat kita bersama-sama. Cukup bagiku untuk mengerti bahwa memang bukan aku yang kamu cari.

Aku tahu diri.

Maka sekali lagi tolong maafkan aku yang pernah berani bermimpi memilikimu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Pergilah. Berbahagialah.

 

Perahu Kertas

 

PS: tulisan dibuat setelah ‘mabok’ mendengarkan Tahu Diri (OST. Perahu Kertas) yang dinyanyikan ulang oleh Tri Suhariyagi.