Bada Dan Para Rahwana

Sudah sepatutnya Bada takut. Di hadapannya berdiri tiga orang yang bertubuh tiga kali lebih besar darinya. Tinggi dan kokoh, seperti tokoh antagonis Ramayana yang diceritakan Ibu sebelum ia berangkat tidur. Rahwana namanya.

Tiga Rahwana mencegat Bada ketika ia sedang bersenandung riang menuju sekolah. Di daerah persawahan yang sepi, tanpa rumah warga di sekelilingnya. Pagi, saat matahari masih bersinar malu-malu. Mereka meminta uang jajan Bada, tapi Bada tidak diberikan uang jajan oleh ibunya.

“Saya disiapkan bekal oleh Ibu. Saya tidak diberi uang jajan.” Begitu Bada berkilah ketika Rahwana yang paling besar tubuhnya meminta uang jajan Bada.

Rahwana-Rahwana tidak puas dengan jawaban itu. Mereka sulit percaya bahwa Bada tidak dibekali uang jajan. Anak ini pastilah berbohong, begitu pikir mereka. Maka Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya meninggikan suara. Suaranya menggelegar, ternyata meski tubuhnya paling kecil, suaranya mampu membuat Bada gentar.

“Periksa saja sendiri kalau tidak percaya.” Bada menyerahkan tasnya. Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya dengan segera mengambil tas Bada. Tidak sabar ia mencari. Membuka retlesting bagian besar tas Bada, dia mengobok-obok isinya, mengaduk-aduk.

Dua Rahwana lain tidak sabar melihat atraksi Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya. Mereka merenggut tas kemudian dengan jenaka, menurut penglihatan Bada, berebut untuk memeriksa tas Bada. Rahwana yang paling besar tubuhnya menang. Ia membuka retlesting lebih lebar hingga tas Bada menganga, mencari-cari namun tidak menemukan. Akhirnya ia membalik tas Bada hingga buku-buku pelajaran, tempat pensil, dan bekal makanan Bada serta botol minum kemasan yang diisi dari teko di rumah berserakan di tanah.

“Ah! Lama!” Akhirnya Rahwana yang tubuhnya tidak kecil tidak besar mengambil alih, ia memeriksa isi tas Bada, kosong. Semua isinya sudah berhamburan di hadapan Rahwana-Rahwana dan Bada. Hanya ada satu tempat yang belum diperiksa, bagian depan tas yang lebih kecil bentuknya, diretlesting dan retlestingnya dipakaikan gembok kecil. Gembok itu dapat dibuka dengan kombinasi tiga angka.

“Berapa kodenya?” Rahwana yang tubuhnya tidak kecil tidak besar bertanya. Suaranya lucu. Bada sempat tertawa dalam hati. Membayangkan tokoh kartun di hari minggu yang bisa jadi disulih suara oleh Rahwana setengah kecil setengah besar.

Bada menggeleng. Karena dia benar tidak tahu. Tas itu adalah tas bekas yang dibelikan Ibu di pasar loak tak jauh dari balai desa. Sejak dibeli, memang begitu bentuknya. Dan saat memakai tas itu, Bada tidak pernah menggunakan bagian yang terkunci. Bagian belakang cukup luas untuk menampung barang-barangnya. Untuk apa berusaha membuka bagian depan?

“Sungguhan. Saya tidak diberi uang jajan.”

“Bohong! Pasti ada di dalam sini!” Suara Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya semakin tinggi. Ia menunjuk bagian depan tas Bada yang dipamerkan Rahwana tidak kecil tidak besar. Wajahnya terlihat frustasi. Matahari makin tinggi dan sepertinya warga akan mulai melewati jalan antar desa ini.

Bada bingung bagaimana cara menjelaskannya bahwa ia sungguh benar tidak diberikan uang jajan sehingga Rahwana-Rahwana ini tidak menganggunya lagi. Jarak ke sekolah masih setengah jalan, dan ia akan terlambat untuk hadir di kelas jika ia berlama-lama berurusan dengan Rahwana-Rahwana. “Rusak saja gemboknya. Saya juga penasaran apa isinya.” Akhirnya Bada berbicara.

Tiga Rahwana saling berpandanganan. Gagasan yang luar biasa berani dari seorang anak putih-merah yang sedang dipalak. Rahwana yang paling besar tubuhnya mengambil batu, kemudian dengan sekuat tenaga ia mencoba membuka -menghancurkan- gembok yang bergelantungan di retlesting bagian depan tas Bada. Tidak berhasil. Ia terus mencobanya hingga keringat membasahi kepalanya.

Dua Rahwana yang lain menunggu, menyaksikan temannya baku hantam dengan gembok di tas Bada. “Berapa tanggal lahirmu?” Tiba-tiba Rahwana yang paling kecil bentuk tubuhnya bertanya kepada Bada yang sejak tadi juga takjub melihat kualitas gembok di retlesting tasnya.

“12 November.” Jawab Bada jujur.

Tanpa diperintah, Rahwana yang paling besar tubuhnya mencoba kombinasi 121, gagal. 112, gagal. Rahwana-Rahwana semakin kesal. Bada pun sebenarnya menunggu-nunggu agar gembok itu terbuka. Tapi jelas kombinasi ulang tahunnya tidak akan membantu.

“Kemungkinannya 999 kan? Mau dicoba satu-satu?” Bada memberanikan diri bertanya. Ia sungguh jadi penasaran. Dan itu membuat Rahwana-Rahwana kesal, karena Bada terlihat tidak terintimidasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s