Kaya

Seharusnya semakin larut, semakin sepi. Tapi ini adalah malam pergantian tahun, semua orang memberikan pengecualian kepada malam ini. Guru TK tidak akan lagi menuliskan tahun 2011 di papan tulis besok pagi. Semua telepon genggam yang pengaturannya benar tidak akan berputar di angka 2011 lagi. Bank sudah mencatat pembukuan pemasukan dan pengeluaran yang terjadi di tahun 2011. Sudah tidak bisa diganggu gugat, 2011 sudah lewat.

“Harapan kamu di tahun ini apa?” Rama meneguk minumannya, pandangannya tidak ke arah Shesa. Rama menikmati pemandangan seorang anak kecil yang sedang memainkan balon gas berbentuk SpongeBob.

Shesa mengikuti arah pandangan Rama dan tersenyum. “Sama seperti tahun lalu, semoga aku kaya.”

Rama langsung menoleh, tidak menyangka jawaban Shesa akan sesederhana itu, tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Shesa yang mengerti dengan tatapan Rama tertawa. “Hahaha, nggak usah segitunya, Ram.”

“Ya lagian kamu, jawabannya gitu doang.”

“Tuh kan, berarti kaya versi kamu sama versi aku beda. Kamu liat anak kecil itu, kan?”

Rama kembali menoleh ke arah anak kecil yang sedang memainkan balon gas berbentuk SpongeBob. “Iya, aku liat. Kenapa emangnya?”

“Aku sangat yakin, kaya versi anak kecil itu adalah punya balon gas berbentuk SpongeBob.”

Rama mengangguk, mulai mengerti apa yang dimaksud Shesa dengan kaya. Bukan materi seperti apa yang tadi sempat dia pikirkan. Kata kaya memang tidak sesederhana kelihatannya. Kaya lahir memang perlu, tapi kaya bathin lah yang seseungguhnya kaya. Dan bukan perkara mudah untuk mendapatkan kekayaan bathin.

“Terus, kalo kamu? Harapan kamu tahun ini apa, Ram?”

“Lulus kuliah! Sumpah, akademik ini masalah paling ganggu dalam hidup aku, Sa.”

Shesa tertawa terbahak-bahak.

Advertisements

Tuhan

“Patra baik banget nraktir kita.” Kata Shesa, masih terus meneguk minuman kopinya yang pertama di dunia.

“Kamu kalau tau berapa banyak uang yang ada di mesin kasir itu pasti nggak akan mikir kalau Patra itu baik.” Balas Rama sambil tertawa.

Shesa heran, alisnya terangkat. “Maksud kamu?”

Rama tersenyum sambil mulai membuka plastik Sampoerna Mild, “Saking banyaknya uang di mesin kasir itu, Patra nggak akan ketahuan nyelundupin dua minuman gratis. Kita bukan ditraktir Patra, kita lagi ditraktir Starbucks.”

“Hahaha! Jadi kalau aku mau bilang terima kasih, ke siapa dong?”

“Hmm, ke Tuhan, aja. Atau kalau kamu mau ngirim e-mail ke yang punya Starbucks, ya, silakan.”

Shesa tiba-tiba terdiam. Tuhan?

“Kenapa? Kok diam?” Rama yang menyadari perubahan wajah Shesa, bertanya.

“Kamu percaya Tuhan, Ram?”

Rama tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Shesa, pertanyaan macam apa itu? Kamu atheis?”

“Jadi kamu percaya?” Shesa tetap serius, tidak bisa ikut tertawa dengan Rama kali ini.

“Tuhan yang mana dulu?” Rama tersenyum jahil.

Shesa ikut tersenyum, menyadari bahwa lawan bicaranya pasti seorang yang sangat terbuka sampai berani bertanya ‘yang mana’ sebagai jawaban. “Yang mana aja, Ram.” Jawab Shesa akhirnya.

“Oke, gampang. Aku percaya Tuhan, yang mana pun, karena aku percaya dengan sebab akibat. Kamu tahu, tidak mungkin ada ciptaan tanpa pencipta.”

Shesa mengangguk, setuju. Jawaban itu cukup bagi Shesa, ternyata Rama memilih untuk memahami bahwa apapun yang ada di dunia ini pastilah ada yang menciptakan, tidak hanya ada begitu saja, sama seperti dirinya.

“Terus, kamu percaya adanya surga dan neraka?” Lanjut Shesa.

Rama yang baru saja akan membakar rokoknya kembali tertahan, tangannya kembali turun. Lagi-lagi pertanyaan yang perlu dipikirkan sebelum dijawab. Rama berpikir, menyiapkan jawaban terbaiknya. Sampai akhirnya dia memilih untuk membakar rokoknya terlebih dahulu.

“Gimana, Ram?” Shesa tidak sabar dengan jawaban Rama.

Rama masih berpikir, setelah tiga kali tarikan pada rokoknya, Rama bisa menjawab. “Oke, aku percaya. Aku percaya adanya surga dan neraka.”

“Kenapa?”

“Aku nggak punya gambaran lain setelah mati mau pergi ke mana, kecuali ke surga atau neraka.”

“Reinkarnasi?”

Rama menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Itu menarik, sih. Tapi, apa nggak bosen ngulang kehidupan?”

Giliran Shesa yang tertawa mendengar jawaban Rama. Membuat Rama merasa kesal karena diremehkan jawabannya.

“Aku serius. Paling kalo nanti aku reinkarnasi, akan seperti ini lagi. Ketemu masalah yang sama: lahir, sekolah, kerja, nikah, punya anak, mati.”

Shesa semakin tertawa, “Hahaha! Oke oke, terus kamu mau masuk mana, surga atau neraka?”

“Ya, neraka dong.”

Shesa yang belum selesai tertawa langsung tersentak, diam. Dengan cepat otak Shesa berpikir alasan kenapa Rama memilih neraka dari pada surga. Jawaban yang mengalir cepat tanpa Rama pikirkan sama sekali, tidak seperti pertanyan-pertanyaan sebelumnya, mampu membuat Shesa terkejut. Atau mungkin, ajaran agama Rama memiliki sudut pandang yang berbeda dengan ajaran agama Shesa? Neraka itu surga, surga itu neraka?

“Kenapa, Ram? Kenapa kamu milih neraka?” Tanya Shesa akhirnya.

Rama tersenyum, “Aku anti-mainstream.”

Shesa tertawa terbahak-bahak. Malam belum selesai, masih banyak waktu untuk menanyakan Rama tentang Tuhan.

Kuat

“Loh, kok balik lagi?” Barista Starbucks yang bernama Patra, yang kebetulan teman semasa SMA Rama, menegur dengan senyum tepat di belakang mesin cashier ketika Rama dan Shesa sampai di sana.

“Nggak boleh? Ya udah, gue cabut, nih.” Jawab Rama sambil tertawa.

Patra, yang tahu bahwa itu hanya candaan kasual dari Rama, tidak mengubrisnya, dia tahu bahwa Starbucks satu-satunya tempat yang paling tenang di Cilandak Town Square sekarang, karena hall yang menjadi ciri khas mall di Jakarta Selatan ini berubah menjadi ajang rave party bagi mereka yang -mungkin- tidak bisa membayar masuk ke club.

“So, kamu yang cantik mau pesan apa? Kalo si freak ini gue yakin banget bakalan Espresso Macchiato.” Patra berbicara tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rama yang sekarang tertawa terbahak-bahak.

Shesa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Patra, berpikir minuman apa yang tepat untuk menemaninya menghabiskan malam ini. Terlalu banyak tulisan yang tergantung tepat di belakang Patra, semuanya enak terbaca. Sebelumnya, Shesa memasan Chocolate Cream Chip, dan itu satu-satunya minuman yang pernah dia coba di Starbucks. Shesa tidak pernah memesan minuman lain! Baginya, bila sudah menemukan sesuatu yang pas, untuk apalagi mencoba yang lain.

“Chocolate Cream Chip.” Ucap Shesa akhirnya, membuat percakapan Rama dan Patra terhenti.

“Sip! Tunggu sebentar, yah. Oh, by the way, kali ini, on me.” Tanpa menunggu komentar dari Rama ataupun Shesa, Patra dengan segera membuat pesanan kedua temannya itu.

Baik Rama maupun Shesa kini berjalan menuju tempat pengambilan pesanan yang ada di samping sebelah kiri mereka, agar pembeli berikutnya bisa memesan.

“Kenapa pesen itu lagi?”

“Kamu juga mesen minuman yang sama kayak tadi.” Jawab Shesa tersenyum.

“Karena aku memang mau itu, tanpa berpikir.” Balas Rama sambil mengambil BlackBerrynya yang bergetar, menandakan ada pesan yang masuk. Rama membacanya cepat, lalu kembali memasukannya ke kantung celana jeansnya. “Sedangkan kamu tadi berpikir dulu, tidak yakin apa yang kamu mau.”

Shesa terkejut. Semudah itu kah membaca apa yang ada dipikirannya? Bukan kah memilih menu lalu memutuskan itu hal yang biasa? Tapi kenapa Rama begitu yakin bahwa diamku sebelum memutuskan memiliki maksud tersendiri.

“Aku tidak suka dengan pilihan. Pilihan membuat rumit.”

“Berarti kamu nggak suka soal pilihan ganda, yah?”

Baik Rama maupun Shesa tertawa.

“Dan kamu suka menjawab pilihan dengan ‘terserah’ karena bagi kamu semua sama saja.” Lanjut Rama.

Shesa masih juga terdiam, tidak mejawab, tetap mendengarkan. Hanya karena Chocolate Cream Chip pribadinya langsung terbaca oleh Rama. Sial! Rama terlalu pandai membaca gerak tubuh, batin Shesa berteriak. Tapi hanya senyum yang dapat dia tampilkan di depan Rama.

“Mau tukeran minuman nggak?”

Shesa mencari mata Rama, tertarik dengan apa yang ditawarkan. Bertukar minuman? Dan ini akan menjadi kopi pertamanya di dunia. Shesa tidak pernah meminum kopi sebelumnya, bahkan memakan permen Kopiko dia tidak pernah. Tidak tertarik dengan warna pekat pada kopi.

Shesa mengangguk, berdebar menunggu kopinya yang pertama.

“Satu Espresso Machiatto dan satu Chocolate Cream Chip.” Suara Patra membuyarkan lamunan Shesa. Minuman berwarna hitam itu tercium dengan jelas.

Rama nyaris tertawa melihat ekspresi Shesa yang terpukau melihat minuman yang kini menjadi miliknya. Dengan santai Rama mengambil Chocolate Cream Chip-nya, “Yuk!” Ajak Rama kepada Shesa untuk keluar, duduk di smoking area Starbucks.

Sesampainya di tempat duduk, Rama masih tersenyum melihat Shesa yang kebingungan dengan minumannya.

“Kamu tau nggak asal muasal kata Kopi?”

Shesa menggeleng dan melemparkan senyumnya, dia belum juga mencoba Espresso Machiatto.

Kopi itu berasal dari bahasa Arab, qahwah, kemudian mengalami perubahan menjadi kahveh di Turki. Dan akhirnya menjadi koffie di Belanda.”

“Arab? Wow, sekarang aku jadi tau kenapa namanya Arabika.” Komentar Shesa, terpukau dengan penjelasan Rama.

“Iya, bener. Kopi Arabika, kopi terbaik, hahaha.” Jawab Rama sambil menyeruput Chocolate Cream Chip-nya. “Oh iya, aku lupa. Qahwah itu artinya kekuatan dalam bahasa Arab.”

“Kekuatan?”

“Iya, aku juga nggak tau, kenapa kopi dibilang kekuatan. Tapi yang aku tau, kopi itu bisa menurunkan risiko penyakit kanker, jantung, dan diabetes, loh.” Lanjut Rama masih menjelaskan.

“Oke oke, cukup iklannya. Aku cobain, nih. Kamu do’ain dong.”

“Hahaha! Iya iya, silakan.”

Dan akhirnya Shesa menyeruput sedikit cairan yang berada di cangkirnya. Rama menunggu, kali ini dia ikut berdebar.

“Enak!” Kata Shesa akhirnya.

Dan Rama tertawa terbahak-bahak. Shesa ikut tertawa, awal tahun yang menyenangkan, mencicipi kekuatan, dan memiliki kekuatan untuk mencoba hal baru.

Coffee Beans

Enam

Malam semakin tua, jam di tangan kanan Rama sudah menujukan hampir pukul satu dini hari, tapi tentu saja malam tahun baru masih terlalu muda untuk disudahi.

Beberapa orang menuruni tangga, berpapasan dengan Rama dan Shesa yang kini sudah menjajaki anak tangga yang terakhir. Wajah orang-orang itu terlihat bahagia, mungkin ini salah satu malam tahun baru terbaik mereka, pergi bersama orang-orang tersayang sambil sekedar makan dan minum serta menyaksikan pesta kembang api yang berasal dari berbagai sudut kota.

“Eh, aku boleh ke Foodmart dulu? Mau beli rokok.” Kata Rama, teringat bahwa sebungkus rokok yang dia bawa dari rumah telah habis terbakar.

Shesa hanya mengangguk, lalu mengikuti Rama yang berjalan ke arah kanan, tempat dimana Foodmart berada.

“Rokok nggak baik buat kesehatan.” Tiba-tiba Shesa berbicara tanpa menoleh ke arah Rama.

Rama tersenyum. “Iya, soalnya bisa menyebabkan kanker, ya?”

“Itu kamu tau, selain itu, sayang bakar-bakar uang.”

“Kenapa kamu nggak bilang begitu ke mereka yang main kembang api tadi?”

Shesa tertawa, dia sangat tahu kalau perokok selalu mempunyai pembenaran untuk melakukan aktivitas mematikan itu.

Kemudian Rama dan Shesa masuk ke dalam Foodmart, di pintu masuk terdapat banyak sayur-sayuran dan bahan makanan olahan yang tinggal dimasak saja, Shesa tertarik untuk melihat-lihat. Rama menemani.

“Aku selalu suka ngeliat sushi maki, mereka berenam ngumpul, kayak lagi ngegossip.” Shesa berpendat polos saat melihat-lihat di counter sushi.

Rama yang sejak tadi bingung dengan bahan makanan yang dikomentari Shesa tergelak, “Hahaha! Kamu ini lucu, ya? Main sama si kembar gemini lah, sushi ngegossip lah. Hahaha!”

Shesa meninju lengan Rama sambil terus berjalan menuju kasir. “Ah, kamu ini nggak punya daya khayal. Padahal gemini harusnya punya daya khayal yang tinggi.”

Rama sedikit mengaduh, dan menyapu lengan kirinya. “Hmm, mungkin aku gemini murtad.”

Kali ini Shesa yang tertawa mendengar perkataan Rama. “Hahaha! Kamu juga aneh tau.”

Akhirnya setelah Shesa puas melihat-lihat bahan makanan, mereka berdua berjalan ke arah kasir yang hanya menerima sepuluh item belajaan setiap transasksinya, karena hanya disanalah counter kasir yang menjual rokok.

“Angka yang paling kamu suka?” Tiba-tiba Rama bertanya, membuat bahan pembicaraan baru selagi mengantri.

Shesa terdiam, berpikir. Bola matanya berputar, dan dahinya berkerut, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan Rama yang tiba-tiba.

“Enam, aku suka angka enam!”

“Kenapa? Karena Sushi tadi? Hahaha.”

“Bukan, dong.” Jawab Sesha sambil memukul kecil bahu Rama dengan belakang telapak tangannya.

“Terus, kenapa memilih enam?”

Shesa tersenyum, Sesha tidak langsung menjawab karena kini tiba bagi Rama untuk membayar rokoknya di cashier.

“Sampoerna Mild nya, Mbak. Dua.” Ucap Rama cepat sambil mengeluarkan dompetnya yg sejak tadi tersimpan di kantung belakang sebelah kanan jeansnya.

“Semuanya dua puluh dua ribu, Mas.”

Rama meraih selembar uang bergambar Otto Iskandar Dinata dan selembar uang bergambar Pangeran Antasari dan menyerahkannya. Tidak perlu menunggu kembalian.

“Terima kasih, Mas.”

“Sama-sama, Mbak. Selamat tahun baru, by the way.”

“Eh, iya, Mas. Selamat tahun baru juga.”

Setelah beberapa langkah Shesa tidak tahan untuk berkomentar. “Kamu ngucapin selamat tahun baru ke petugas cashier? So sweet banget.”

“Hahaha! Ya nggak apa-apa, kan? Kasian tau, lagi tahun baru begini dia kerja.”

“Iya, juga, yah. Apa perlu kita ajak ngobrol-ngobrol di Starbucks?”

“Ya, nggak perlu seramah itu juga kali.”

Tanpa dikomando, baik Rama dan Shesa tertawa, kali ini mereka tinggal berjalan lurus untuk mencapai kedai kopi internasional, Starbucks.

“Oh, iya. Kenapa enam?” Rama mendadak ingat pertanyaannya yang belum dijawab oleh Shesa.

“Karena enam batas yang sempurna, Ram.”

Giliran Rama yang mengerutkan dahinya, tanda tidak mengerti. Shesa tersenyum, tahu bila kalimatnya tidak dimengerti oleh Rama.

“Oke, gampangnya begini. Kalau kamu dapat nilai enam di, hmm, ulangan matematika. Kamu nggak remedial, tapi kamu punya motivasi untuk dapat lebih dari sekedar enam di ulangan berikutnya. Kamu nggak bisa sombong, karena masih ada nilai tujuh sampai sepuluh. Kamu dibuat bersyukur karena ada yang bernilai nol sampai lima.”

Rama terdiam, Shesa selesai berbicara. Mereka sudah sampai di depan pintu Starbucks.

“Mendadak, aku suka angka enam, nih.”

Shesa tertawa sambil membuka pintu Starbucks.

Sushi: California Roll

Mahadewi

“Lagian kenapa nggak kamu pindahin dulu troleynya?” Rama masih juga tertawa, tidak menyangka bila mobil yang terparkir sembarangan yang tepat berada di hadapannya ternyata mobil Shesa.

Shesa mengulum bibirnya, “Ya tadi ribet banget. Aku sendirian, masa aku turun dulu terus ngegeser troleynya, masuk mobil lagi?”

Rama tidak bisa berhenti tertawa membanyangkan kesulitan Shesa saat memarkir tadi.

I will never know, cause you will never show. C’mon you love me now, c’mon you love me now.

Shesa yang sedang sebal kepada Rama, yang tidak bisa berhenti menertawai dirinya, terkejut dengan ringtone yang berbunyi. Dengan cepat dia kembali mencari BlackBerrynya di tas tangan yang sejak tadi dipangku olehnya.

“Aduh, Nyokap.” Kata Shesa melihat layar BlackBerrynya. “Sebentar yah, Ram.”

Rama hanya mengangguk, sambil mencoba untuk berhenti tertawa.

“Halo Ma. Iya, ini aku di Citos. Ya ampun, ini malam tahun baru, aku sama temen-temen aku. Iya iya, sebelum Subuh aku udah nyampe rumah, kok.” Shesa kesal, umurnya sudah dua puluh dua, tapi masih saja diperlakukan seperti laiknya anak umur sepuluh tahun.

Akhirnya sambungan telepon itu putus setelah Shesa sedikit berteriak kepada ibunya untuk tidak perlu mengkawatirkannya karena sekarang dia berada di tempat yang aman.

“Nyokap nyariin?” Tanya Rama setelah Shesa meletakan kembali BlackBerrynya ke dalam tas.

Shesa mengangguk. Ini kekesalannya yang pertama di tahun 2012, dan Shesa tidak menyangka kekesalan pertama berasal dari ibunya.

“Enak ya, kamu masih punya ibu.” Kata Rama lirih.

Kalimat itu berdampak besar untuk Shesa, dia menoleh ke arah Rama, mencari mata Rama. Namun Rama hanya menunduk, seakan disanalah lawan bicaranya berada.

“Eh, sorry Ram. Aku nggak bermak.. ”

“Loh, santai, Sa. Aku biasa aja kok.” Jawab Rama cepat, memotong kalimat Shesa.

Shesa merasa tidak nyaman, bingung bagaimana harus bertindak. Shesa berpikir bagaimana caranya untuk mengembalikan keadaan seperti semula, penuh tawa dan keterkejutan. Shesa mengharapkan Rama kembali melemparkan topik pembicaraan, tapi hampir satu menit berlalu, Rama masih juga tidak menatapnya.

“Kapan?” Akhirnya Shesa menyerah, dia berpendapat mungkin Rama mau membahasnya. Sehingga Shesa berani untuk menanyakan itu.

Rama menoleh, menatap Shesa yang kini berharap cemas dengan jawaban yang diberikan olehnya. Rama tersenyum.

“Tepat di hari ulang tahun aku. Beliau meninggal waktu melahirkan aku, Sa.”

Pukulan kedua bagi Shesa, karena dia tidak menyangka akan begini ceritanya, bahwa Rama berarti tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Rama tidak tahu rasanya dikhawatirkan oleh seorang ibu, Rama tidak tahu rasanya dibuatkan masakan favorit oleh seorang ibu, Rama tidak tahu rasanya dibacakan cerita oleh seorang ibu sebelum tidur, tidak seperti Shesa yang merasakan itu semua, bahkan sampai dia kesal sendiri.

“Ibuku jago masak loh, kata ayah. Ibuku juga pintar kata kakakku yang pertama, beliau selalu menemaninya membuar PR. Dan ibuku luar biasa cantik kata kakakku yang kedua.” Lanjut Rama, masih dengan tersenyum.

Shesa tidak bisa menjawab apa-apa, dia membiarkan Rama bercerita tentang ibunya yang dia dengar dari orang lain. Rama tidak mempunyai kenangan apapun dengan ibunya, dan itu berhasil membuat Shesa merasa sedih.

“Kata nenek, ibuku anak yang baik. Tapi, ya, mungkin karena nenek orang tuanya, ya? Hahaha.”

Shesa tersenyum.

“Aduh, aku jadi sensitif begini. Malu ah!” Rama tertawa terbahak-bahak, matanya sudah berkaca-kaca.

“Cowok yang sayang sama ibunya itu, punya tempat tersendiri di hati para perempuan loh.” Timpal Shesa sambil tersenyum.

Tawa rama semakin meledak, dan dia tidak tahu apakah air mata yang jatuh adalah air mata kesedihan atau air mata karena tawa yang melebihi dosisnya. Dia biarkan saja dua air mata itu bertemu menjadi satu. Dileburkan.

“Ibuku namanya Dewi, tapi aku tahu kalau beliau lebih cocok menjadi Mahadewi.” Lanjut Rama sambil menyapu air matanya. “Semua ibu di dunia itu Mahadewi, setara dengan Durga, Parwati, Kali, Lakshmi, dan Saraswati.”

“Aku cuma tau Mahadewi lagunya Padi, Ram.”

Setelah mengucapkan itu, Shesa terdiam. Rama juga terdiam mendengar perkataan Shesa. Tidak berapa lama kemudian, mereka berdua tertawa bersama-sama. Sadar bahwa perkataan Shesa sangat jauh keluar dari topik.

“Lain kali, aku ceritain tentang kelima dewi itu, deh. Kamu mau denger?”

“Mau banget!” Jawab Shesa cepat, bersemangat.

Mereka berdua saling melempar senyum.

“Mau ke Starbucks lagi, nggak? Mungkin udah sepi disana. Disini mulai banyak nyamuk.” Kata Shesa akhirnya.

“Ayo.”

Akhirnya mereka berdua berdiri dari trotoar yang sejak tadi difungsikan sebagai tempat duduk, tepat di belakang mobil Shesa yang terparkir. Selama perjalanan menuju Starbucks, Rama tidak menyadari kalau Shesa sibuk dengan BlackBerrynya. Shesa tertinggal beberapa langkah dari Rama.

“Ma, maaf yah. Tadi aku kasar sama Mama. Aku tau Mama khawatir sama aku. Terima kasih ya, Ma. Nanti aku kabarin lagi. Selamat tahun baru, Ma. :)”

D

R

Tidak berapa lama suara PING! nyaring terdengar, membuat Rama yang sejak tadi menatap lurus ke depan tanpa mempeduliakn Shesa yang jalannya melambat karena menatap layar BlackBerrynya, menoleh.

“Iya sayang, nggak apa-apa. Mama juga yang nggak tau situasi untuk khawatir. Kamu kan sudah besar, bisa menjaga diri sendiri, dan ini malam tahun baru. Hati-hati yah, nak. Selamat tahun baru juga.”

Shesa tersenyum di depan layar, ketika wajahnya diangkat untuk mencari Rama, Rama sudah memandangnya dengan bingung.

“Kenapa Sa?”

“Nggak apa-apa.” Jawab Shesa dengan senyuman sambil memasukan BlackBerrynya ke dalam tas.

Kemudian Shesa berjalan menyusul Rama yang sudah ada tiga langkah di depannya. Setalah mereka bersebelahan, perjalanan pun dilanjutkan.

“Terima kasih yah, Ram.” Kata Shesa ketika mereka berdua sudah berada di tangga menuju ruangan kosong yang tadi dipenuhi oleh orang-orang untuk menonton pesta kembang api.

“Buat?”

“Ngenalin aku ke Mahadewi.”

Rama menoleh bingung, namun Rama memilih untuk tidak bertanya. “Sama-sama, Shesa.”

Durga
Parvati
Kali

Yogyakarta

“Sunday!”

Rama tertawa mendengar Shesa sedikit berteriak. “Iya, hari matahari.”

Akhirnya Rama berhenti berjalan, tepat di belakang sebuah mobil yang terparkir sembarangan, mobil itu tidak menyentuh besi belakang yang menandai batas parkir, sehingga memberikan ruang kosong antara mobil dan trotoar.

“Duduk sini aja.” Kata Rama sambil menoleh ke arah Shesa yang masih tersenyum.

“Oke.” Shesa dengan santai mengikuti Rama yang telah lebih dulu duduk di trotoar, menghadap ke arah mobil yang diparkir sembarangan oleh pemilikinya.

Baru 10 menit sejak kalender masehi resmi berganti menjadi 2012, tapi Shesa tau bahwa tahun ini adalah tahun miliknya, dia mengawali tahun baru dengan menyenangkan, bersama Rama.

“Yang markir bego. Padahal batas besinya masih jauh banget, kan kasian jatah jalan di depannya jadi berkurang.” Tiba-tiba Rama berkomentar, membuat Shesa yang sejak tadi mencari posisi nyaman untuk duduk, tertawa.

“Hahaha, kamu seenaknya aja ngatain orang bego. Belum tentu kamu tau tadi kondisinya kayak apa. Siapa tau tadi hectic banget, mobil parkir pararel, dan pemilik mobil ini kesusahan.”

Rama ikut tertawa, benar apa yang dikatakan Shesa, dia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kadang kita memang dengan mudahnya membuat suatu pernyataan tanpa tahu masalah yang sebenarnya. Seperti saat ini, Rama tidak tahu alasan pemilik mobil memarkir mobilnya dengan tidak sempurna, lalu dia dengan mudahnya mengatai pemilik mobil.

“Alah, kamu juga kalo markir mobil, sembarangan, kan?” Rama memilih untuk menjahili Shesa.

Shesa yang sedang menikmati tawanya seketika terdiam. Lalu dengan cepat dia memukul kecil bahu Rama. “Ih, ngeselin banget kamu.”

Kali ini gantian Rama yang tertawa terbahak-bahak melihat Shesa merajuk.

“Kemana perjalanan menggunakan mobil kamu yang paling  jauh?” Tanya Rama setelah mampu mengontrol tawanya.

“Hmm, Bandung.” Jawab Shesa cepat tanpa berpikir, tapi kemudian dia langsung tersenyum, menyadari kesalahan jawaban yang dia berikan kepada Rama. “Bukan bukan, yang paling jauh itu Jogja. Tahun lalu, eh, dua tahun yang lalu!”

“Wah, kamu ke Jogja pake mobil? Seru?”

Shesa tersenyum, dia hampir saja melupakan perjalanan paling menyenangkan yang pernah dia lakukan. Seorang diri.

***

Waktu itu aku sedang mempunyai masalah .. baiklah baiklah, masalah percintaan. Sebenarnya sederhana saja, aku mendapati pacarku berselingkuh. Klise? Memang seklise itu. Lalu dengan bodoh aku mengatur sebuah perjalanan, perjalanan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku ke Jogja!

Aku menyewa sebuah mobil dan supir dari Jakarta. Orang tuaku tidak tahu aku pergi ke Jogja seorang diri, kalau mereka tahu, pasti mereka sudah melarangku. Aku berkata kepada orang tuaku kalau aku sedang melakukan penelitian di sebuah desa di Bandung untuk tugas kuliah bersama teman-temanku, dan aku akan menginap di rumah teman kuliahku yang mempunyai rumah di Bandung. Mereka percaya!

Selama perjalan, aku lebih sering berdiam diri, atau memandang keluar jendela sambil menangis. Tapi karena aku malu dengan Pak Bayu, supir berumur empat puluh tahunan yang aku sewa, tangisku tidak bersuara. Sampai akhirnya Pak Bayu menyadari bahwa aku sedang menangis, kemudian dia bilang bahwa dia mau mendengarkan musik dari telepon genggamnya menggunakan headset dengan volume paling kencang.

Aku tersenyum, hampir tertawa bahkan, Pak Bayu sangat pengertian. Akhirnya, setelah aku bisa mendengar lagu dangdut yang berasal dari headset di telinga Pak Bayu, aku menangis sejadi-jadinya. Selesai menangis, aku tertidur, lalu terbangun di daerah yang tidak aku ketahui. Karena aku kelaparan, akhirnya mobilku berhenti di sebuah rumah makan Padang pinggir jalan. Selama makan, aku curhat tentang masalah percintaanku kepada Pak Bayu, dia hanya tertawa saja mendengar ceritaku. Mungkin bagi dia kisahku itu konyol, aku masih terlalu muda untuk mendramatisir kisah cinta. Pengalamanku masih cetek sampai menganggap cinta itu hanya kasih kepada seorang laki-laki.

Saat kembali melanjutkan perjalanan, aku kembali menangis, kali ini Pak Bayu tidak menggunakan headsetnya. Dia dengan sabar membuka telinganya, mendengar aku menangis. Kemudian aku kembali tertidur.

Saat aku terbangun, aku bingung, Pak Bayu tidak lagi ada di belakang kemudi. Mobil sudah terpakir di sebuah tempat yang aneh, sebuah bukit. Saat itu pukul 5, matahari baru sedikit terlihat di timur. Pak Bayu yang sedang berbicara dengan satpam sambil merokok melihatku turun dari mobil. Dia menghampiriku sambil tersenyum dan berkata bahwa kami sudah sampai di Jogja, tapi dia tidak mau membangunkan aku, sehingga dia mengambil inisiatif untuk membawaku ke salah satu tempat yang tinggi di Jogja untuk melihat matahari terbit.

Aku tersenyum, Pak Bayu sangat baik. Dia mengajaku untuk berjalan, udara pagi Jogja membuatku harus mengambil jaket terlebih dahulu di dalam mobil. Dari penglihatanku, tempat ini adalah tempat pariwisata, ada sebuah petunjuk berbentuk tiang yang membuat pemikiranku benar.

Kami terus berjalan, sampai tiba-tiba aku terkejut dengan apa yang aku lihat. Aku melihat sebuah candi! Dan candi itu berbentuk gerbang, tidak seperti candi-candi yang pernah aku lihat sebelumnya. Sinar matahari yang belum perkasa menimpa candi dan membuat pemandangan paling spektakuler yang pernah aku lihat. Ini terlalu indah untuk mataku!

Pak Bayu sadar akan keterkejutanku, dia hanya tersenyum sambil berkata bahwa aku harus melupakan mantan pacarku dan memulai mencari cinta yang baru, karena aku sudah melihat matahari terbit di gerbang candi Ratu Boko, Yogyakarta.

Aku tidak bertanya, aku tidak menjawab, aku tahu maksud Pak Bayu. Matahari terbit dan gerbang? Aku cukup pintar untuk tahu bahwa itu adalah analogi untuk sebuah kata: Awal. Air mataku mengalir, bukan, aku bukan sedih, aku bahagia.

***

“Wow! Ini kisah nyata?” Rama bertanya dengan nada tinggi, bersemangat.

“Iya dong, kalo nggak percaya, tanya aja Pak Bayu. Sekarang dia jadi supir pribadiku, hahaha.” Jawab Shesa bangga.

“Terus, selain ke Ratu Boko, kamu kemana lagi?”

Shesa mencoba mengingat-ingat, “Hmm, Pasar Beringharjo, Prambanan, Bangun Jiwo, hmm, banyak pokoknya.”

Rama semakin tertarik, tidak menyangka kalau Shesa ternyata mempunyai kisah perjalanan yang sangat menyenangkan.

“By the way, ini mobilku, tadi di belakang sini ada troley. Makanya nggak bisa sampe mundur banget.” Kata Shesa ketus.

Rama terdiam, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Hahaha!”

Ratu Boko

Minggu

Akhirnya selesai sudah acara pesta kembang api. Semua orang membubarkan diri dari ruangan yang menghadap parkiran. Para orang tua yang membawa anaknya pulang, sedangkan para muda mudi melanjutkan pesta di tengah hallway yang mendadak menjadi tempat rave party.

“Yuk, ke parkiran.”

“Ngapain?” Shesa bingung, lupa bahwa dia sudah mengangguk saat ditawari Rama untuk duduk di parkiran.

Rama tesenyum. “Bukannya tadi kamu bingung mau duduk dimana setelah acara selesai?” Rama berkata sambil melihat ke arah kedai kopi tempat dimana mereka berdua duduk, masih ramai.

“Oh, iya. Aku lupa. Ya udah, yuk!” Akhirnya Shesa mengikuti Rama yang selangkah lebih di depan saat berjalan. Sesekali masih ada kembang api yang berkibar di langit.

“Tahun ini pasti aneh. Awal tahunnya jatuh di hari Minggu, hari terakhir.” Kata Shesa, kembali membuka pembicaraan saat menuruni tangga menuju parkiran.

Rama berhenti berjalan dan menoleh, “Siapa bilang Minggu itu hari terakhir?”

“Loh, memang iya, kan?”

Rama mencari BlackBerrynya yang tersimpan di kantung celana jeansnya. Shesa menunggu dengan sabar sambil memperhatikan orang-orang yang mulai berjalan mencari mobil mereka untuk keluar dari mall ini.

“Nih, liat.” Rama menunjukan aplikasi kalender yang ada di telepon genggamnya kepada Shesa.

Shesa tau apa maksud Rama dan dia terkejut. “Oh iya! Eh, ini pasti karena kamu udah ubah settingannya.”

Shesa segera mencari BlackBerrynya yang berada di tas tangan yang sejak tadi dia gantungkan di bahu tangan kanannya. “Sebentar, sebentar. Aku mau ngecek juga.” Setelah mendapatkan benda yang dia cari, Shesa segera membuka aplikasi kalender, dan mengubahnya menjadi month view, ternyata hasilnya sama seperti apa yang ditunjukan Rama tadi. Minggu berada di awal, menunjukan bahwa dia adalah hari pertama.

“Gimana?” Rama tersenyum jail.

“Ya ampun, aku baru sadar loh.” Balas Shesa akhirnya sambil kembali memasukan telepon genggamnya ke dalam tas tangan.

“Kita, kan, menggunakan kata minggu untuk merujuk awal pekan yang baru. Karena dia hari pertama. Lagian, satu tahun itu ada 52 minggu, bukan 52 senin, kan?” Jelas Rama sambil melanjutkan perjalanan mencari spot untuk duduk di parkiran.

Shesa mengikuti Rama sambil terus berpikir, “Bener, juga yah.”

“Kadang, kita memang suka nggak sadar sama hal yang sederhana.”

“Iya, padahal aku sering banget kalo lagi ngatur jadwal nulis minggu kesekian, minggu kesekian, dan minggu kesekian. Nggak pernah tuh nulis senin kesekian, atau selasa kesekian.”

Rama tertawa mendengar penjelasan Shesa. “Kamu ngatur jadwal kamu? Memangnya kamu sesibuk apa sampai harus membagi minggu? Hahaha.”

Shesa hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Rama. Lagipula Shesa tahu, Rama tidak mengharapkan jawaban darinya. “Tunggu! Terus kenapa Minggu termasuk dalam kategori weekend?” Shesa tersadar ada yang salah dari pembicaraan ini.

Rama terdiam, berpikir. “Aku juga nggak tau. Kamu mau aku buat cerita sok taunya?”

Shesa mengangguk cepat.

***

Masalah terjadi saat Dewa Surya mengambil jatah waktu istrinya, Dewi Chandra, dan membuat siang lebih panjang dari sebelumnya. Seharusnya mereka seimbang membagi waktu tugas, 12 jam setiap harinya.

Dulu, Dewa Surya sudah dapat dilihat setiap pukul 4, dan dia akan menyerahkan tugasnya kepada Dewi Chandra tepat pada pukul 16. Semuanya berjalan dengan baik sampai Kartika, anak Dewa Surya dan Dewi Chandra yang selalu ada diantara jam tugas mereka, tiba-tiba tidak mau menemani ayahnya bertugas.

Kartika lebih suka menemani ibunya bertugas, karena disaat malam tiba, para manusia akan tertidur dan dia bebas memamerkan cahayanya untuk dikagumi para manusia yang masih terbangun, kadang, dia berlarian kesana-kemari. Kalaupun tertangkap oleh mata manusia, Kartika bisa tenang, karena dia akan dianggap sebagai meteor. Ini jelas berbeda saat Kartika menemani ayahnya bertugas, dia tidak bisa memamerkan cahanya seenaknya dan bermain kesana-kemari, karena manusia banyak yang melakukan aktivitas di siang hari.

Dewa Surya marah karena Kartika membangkang, sehingga dia memutuskan untuk menunggu Kartika muncul di waktu yang sudah ditetapkan sebagai waktu tugas Dewi Chandra. Saat itu manusia keheranan karena siang tak kunjung selesai, langit menjadi berwarna merah karena ada dua sumber cahaya.

Dewi Chandra pun sempat khawatir, dengan cepat dia mengadu kepada Dewa Siwa, karena jika ini dibiarkan, keseimbangan Bumi akan hancur. Hingga pukul 19, Dewa Surya masih bisa dilihat oleh manusia. Sampai-sampai manusia berpikir bahwa ini adalah akhir dari dunia.

Karena hal tersebut, Dewa Siwa akhirnya memutuskan untuk melakukan perubahan di Bumi. Kartika dihukum untuk menemani ayahnya, Dewa Surya, selamanya tanpa terlihat oleh mata manusia, sehingga Kartika tidak lagi bisa memamerkan cahayanya. Dan Dewa Surya, karena kesalahannya muncul lebih lama di langit, dihukum dengan bertugas lebih lama, sampai pukul 18.

Sejak saat itu, manusia menamai hari dimana Dewa Surya muncul lebih lama sebagai hari Surya. Karena di hari itu, manusia bisa lebih lama menikmati cahaya, anak-anak lebih lama bermain di luar. Manusia bersenang-senang di hari itu. Keesokan paginya mereka harus sudah siap untuk beraktivitas kembali karena sudah diberikan cahaya yang lebih di hari sebelumnya.

***

“Hahaha!” Shesa tertawa terbahak-bahak mendengar cerita yang dikarang habis-habisan oleh Rama. Shesa tidak mengira bahwa Rama ternyata pandai mengacak-acak mitologi, tidak hanya kepada Siren, tapi sampai ke Dewa-Dewi.

“Kok ketawa? Gimana pendapatnya?” Tanya Rama sambil terus memandang Shesa.

“Kamu lucu, Ram.” Kata Shesa disela tawanya. “Kamu sampe nyiptain hari Surya segala. Kita, kan, lagi ngomongin hari Minggu.” Shesa melanjutkan tawanya.

“Kamu lupa hari Minggu itu bahasa inggrisnya apa?”

Shesa terdiam. Dia baru menyadari bila Rama sangat cerdas.

Surya
Chandra