Kau Tidak Akan Pernah Tahu

Kepada Kau,

Ini adalah surat kedua yang aku tulis untukmu, mungkin sekali lagi kau akan merobek amplopnya sebelum sempat melihat deretan huruf yang aku tulis di kertas ini. Tapi apa salahnya jika aku mencobanya. Sekali lagi.

Kali ini aku akan bercerita tentang hari di mana aku mengantarmu ke bandara. Kau ingat hari itu? Tanggal 10 Januari 2011, mantan kekasihmu meminta kehadiranmu di negeri seberang, memintamu membuktikan bahwa kau bersungguh-sungguh memintanya kembali ke dekapanmu. Jawaban atas pertanyaanmu ada di sana, maka aku antar kau ke bandara.

Saat itu masih gelap, suara adzan Subuh belum juga selesai berkumandang, tapi kau telah siap dengan beberapa potong pakaian yang dimasukan secara asal ke dalam tas kecilmu yang berwarna hitam. Tiket elektronik menuju Singapura sudah tersimpan rapi di telepon genggammu, yang kau beli beberapa menit setelah menerima kabar bahwa mantan kekasihmu menunggumu saat itu juga. Penerbangan paling awal jam setengah tujuh pagi, dan kau selamat, masih ada tiket yang bisa kau dapat.

Sepanjang perjalanan dari apartemenmu menuju bandara kita habiskan dengan sunyi. Aku menyetir dengan tekun, dan kau melamun. Tidak ada senyum di sana, sampai saat ini aku tidak pernah bertanya, apa yang kau rasakan pagi itu? Gelisah? Senang? Bingung? Atau mungkin kau sedang mempersiapkan skenario yang akan terjadi saat kau di Singapura? Aku tidak akan pernah tahu, karena aku tahu kau sudah membuang kertas ini ke tempat sampah –yang bila posisinya belum kau ubah- di salah satu sudut kamarmu yang menghadap kamar mandi.

Tapi kamu juga tidak akan pernah tahu, bahwa satu jam perjalanan itu membuatku gila. Aku sudah mempersiapkan beberapa adegan saat itu agar kau tidak sampai ke Singapura dan bertemu dengan mantan kekasihmu. Adegan pertama adalah aku membanting kemudi ke arah kiri saat mobil yang aku kendarai sedang berada di jalan layang menuju bandara, kita akan mati bersama setelah mobil menabrak pembatas jalan dan meluncur jatuh ke jalan yang berada di bawah. Atau kalaupun tidak mati, mantan pacarmu harus menunggumu siuman di rumah sakit, dan menerimamu apa adanya bila terjadi cacat dalam tubuhmu. Adegan kedua adalah aku akan menyatakan cintaku kepadamu saat mobil yang aku kendarai berada tepat di atas jalan layang yang memuat pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang baru terlihat setelah tidur tertutup langit gelap digantikan dengan timbunan halus cahaya matahari, berharap semoga itu bisa membuatmu mengurungkan niat untuk menemui mantan kekasihmu karena sudah ada aku yang bisa menyayangimu lebih dari padanya. Adegan berikutnya terlalu drama sampai aku sempat tertawa sendiri tapi kau tidak menyadari karena sibuk memikirkan apa yang akan terjadi nanti, yaitu saat sampai bandara aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat listrik di bandara mati sehingga semua penerbangan diundur jadwal keberangkatannya selama satu hari.

Dan seperti yang kau tahu, aku tidak melakukan ketiga-tiganya.

Karena sesampainya di bandara setelah kau check-in untuk mendapatkan nomor tempat duduk, kita sarapan di salah satu restoran cepat saji yang pelayannya kurang ramah karena sepertinya kurang tidur. Aku masih ingat apa yang kau pesan, karena itu hanya sebuah sup dan air mineral. Aku tidak memiliki nafsu makan, begitu katamu. Aku pun sebenarnya begitu, tapi aku tidak mungkin memperlihatkannya kepadamu, kau tetap memesan apa yang biasanya aku pesan, paket dua potong ayam dengan satu nasi lengkap dengan minuman soda yang berwarna merah. Aku sempat tersenyum ketika kau datang dengan nampan, menghampiriku yang sudah duduk menunggu dan meletakkan pesanan ‘biasa’ku ke hadapanku. Kau tahu apa yang mau aku pesan tanpa aku memesan kepadamu. Satu-satunya kebahagiaan yang aku raih hari itu.

Bagaimana jika dia menolakku, kau bertanya kepadaku saat aku baru akan melakukan suapan pertama. Jawaban jujur adalah, bagus, jadi aku masih bisa mendapatkanmu. Tapi kalimat yang keluar dari mulutku adalah, dia pasti akan menerimamu kembali, kau tenang saja. Lalu kau tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sunyi kembali datang, kita berdua makan dengan tenang. Sampai akhirnya waktu keberangkatanmu tiba. Kau berdiri, berpamitan kepadaku, lalu sebelum kau benar-benar masuk ke dalam daerah pemeriksaan tiket, kau melambaikan tangan, aku membalasnya.

Dan ini kejadian yang kau tidak akan pernah tahu, aku menunggumu di bandara sampai kau mengabariku apa yang terjadi di Singapura. Aku takut bila kau ternyata ditolak begitu saja oleh mantan kekasihmu setibanya kau di sana. Jangan-jangan dia hanya ingin membuatmu lebih menderita. Aku berpikir kau akan segera kembali ke Jakarta bila itu terjadi, maka aku menunggu, agar bisa mengantarmu pulang kembali ke apartemenmu. Tetapi setelah 24 jam tidak ada kabar darimu, aku berpikir bahwa kau sudah kembali dimiliki orang lain. Maka aku pulang.

Saat melewati jembatan layang, aku ingin sekali membanting kemudi ke arah kiri, biar aku mati.

Tapi kau tidak akan pernah tahu, karena surat ini sudah kau buang ke tempat sampah –yang bila posisinya belum kau ubah- di salah satu sudut kamarmu yang menhadap kamar mandi.

Menunggu Dini

Malam kian temaram, dini sudah menanti.

Aku resah.

Aku sudah menunggumu di tempat kita berpisah.

Pantas aku rindu,

karena sudah enam purnama yang aku lihat tanpamu.

Cepatlah kau datang, kekasihku.

 

Aku rela menjadi kalah, bila ini permainan siapa yang lebih kuat menahan rindu.

Aku rela menjadi tunduk, bila ini permainan siapa yang lebih berkuasa.

 

Waktu seperti beku, detik tak terpetik.

Aku gelisah.

Di sini, di tempat biasa aku menjemputmu.

Persinggahan bagiku dan bagimu,

sebelum kita bersama-sama pulang, berangkulan.

Cepatlah kau datang, kekasihku.

 

Malam kian temaram,

tapi Dini belum tiba.

Bila Rindu

Sekali lagi aku rindu.
Wajahmu sulit aku hilangkan dari hati.
Mengapa bayangmu selalu hadir?
Selalu berhasil mengisi kekosongan diri.

Sekali lagi aku rindu.
Suaramu tidak terbantahkan menggema telinga.
Mengapa kamu selalu beresonansi?
Selalu berhasil menyenandungkan cerita.

Bila rindu dinilai menggunakan deret hitung, maka rinduku tidak akan habis terhitung.
Bila rindu dijabarkan dengan deret aksara, maka rinduku tidak akan habis terbaca.

Sekali lagi aku rindu.
Sentuhanmu masih terasa menyengat kulit.
Tapi terasa, bukanlah nyata.
Hadirlah lagi dengan tegas.

Karena bila rindu dipadankan dengan alam semesta, maka rinduku tidak akan habis dipelajari manusia.

Kuta, 30 Juli 2012

Taman Langit Yang Tersembunyi Di Balik Awan

Aku kembali terdiam, barusan wanita yang kupuja pulang. Dia membawakan masakan kesukaanku, membuatku tidak tahan untuk mencicipinya seketika, saat itu juga. Wanita yang kau cintai mengerti bagaimana caranya membuatmu bahagia? Aku pasti lah orang paling beruntung di dunia. Tidak ada yang boleh melarangku untuk bahagia malam ini. Tuhan sedang berbaik hati, melimpahkan aku dengan rezeki. Tidak masalah bila besok aku tertimpa musibah lagi, yang penting hari ini aku sudah berjabat tangan dengan bahagia.

Tadi Ibu datang, berpesan agar tidak lupa sembahyang, katanya boleh sesekali meminta kepada Tuhan. Asal jangan serakah. Mintalah yang memang dibutuhkan, bukan yang diinginkan. Aku mengerti, Ibu takut hubunganku dengan Tuhan tidak baik seperti dulu. Aku terlalu bahagia, terlalu perkasa untuk memuja Tuhan. Maka sejak tadi, tidak ada sembahyang yang aku lewatkan. Aku senang berburu adzan. Kali ini bukan untuk Ibu, tapi untukku.

Ayah juga menemani, katanya tidak perlu lah aku mengejar dunia. Tidak akan habis kukejar. Laki-laki tua yang paling aku kagumi memang jarang berkata-kata, beliau lebih senang bertindak. Seperti saat aku ketahuan mencuri buah mangga tetangga sebelah, Ayah tidak marah, beliau meminta maaf kepada bapak tetangga, lalu didiamkannya aku seminggu, tidak dibantu mengerjakan PR matematika sampai akhirnya aku kesulitan sendiri. Setelah aku meminta maaf kepada bapak tetangga atas inisiatifku sendiri, Ayah baru bisa tersenyum. Beliau kemudian cuma bilang, orang yang berani meminta maaf berarti sudah setingkat lebih dewasa. Sudah, begitu saja. Semuanya kembali seperti sedia kala.

Surat-surat datang mengabari, katanya mereka rindu kepadaku. Mereka tidak pernah tahu, aku lebih rindu. Makanya, demi mereka aku memutar kata-kata di kepala, mencoba merajut apa yang bisa disulut, mempersiapkan sebuah hadiah. Surat-surat yang tiap malam tidak pernah habis kubaca itu semakin menumpuk, aku tidak menjadikannya beban, aku senang membaca pemikiran mereka. Mereka hebat.

Kemudian mereka yang tidak pernah secara langsung menyebut diri mereka sahabat juga mengunjungiku. Kejadian memang tidak perlu diyakinkan dengan kata-kata. Cukup bagi mereka dan aku menghabiskan waktu bersama, tertawa riang, menertawakan dunia, merasa paling bijaksana, resmilah kami semua bersahabat. Mereka tidak bawa buah tangan seperti wanitaku, atau Ayah dan Ibu, mereka hanya membawa cerita untuk dibagi, dimengerti secara bersama, kemudian memikirkan bagaimana caranya membuat karya.

“Waktu kujungan sudah habis!” Sipir berteriak, aku hanya tersenyum. Para sahabatku kecewa.

“Ya udah, besok kan bisa ke sini lagi. Gue tunggu progres aransemennya.” Begitu kataku menjawab kekecewaan wajah sahabat-sahabatku.

Aku di balik jeruji? Mungkin cuma kalian yang membenciku berpikir begitu. Karena sebenarnya aku sedang berada di balik awan, tempat taman langit bersembunyi, aku menjadi Tuhan, tahu siapa yang baik kepadaku siapa yang tidak. Tempat pertahanan terbaik. Kelak nanti aku keluar, aku bisa memilah bagaimana nanti bertindak dengan tiap manusia yang berprasangka kepadaku. Untuk itu, aku bersyukur.

Katakan Dengan Rindu

Saya rindu.
Jarak bukan penghalang, dinding tak kasat mata yang membuat kita berseberang.
Walaupun tidak pernah ada kita, saya ingat itu. Yang ada, saya dan kamu membicarakan cinta. Lalu terbawa suasana.

Saya benar-benar rindu.
Kemarin tetesannya masih sederhana, malam ini tidak, dijatuhkannya bertubi-tubi. Rasa kenangan ternyata pahit. Saya kembali diam-diam mendoakan kebahagianmu sebelum tidur.

Rindu saya padamu.
Tidak berani menyapa karena gentar menganggu. Boleh kah saya sombong dengan berharap bahwa kamu berharap saya akan menyapa? Kemudian tawa mengeluh karena candaan saya tak lucu.

Saya sudah rindu.
Langit lupa bagaimana caranya menghadirkan romantis. Yang diperlihatkan hanya gulita yang diam. Saya kelam. Hati berontak untuk keluar dari dada, rela menyerahkan diri kepadamu.

Ambil hati saya.
Dia mengatakan rindu dengan sempurna.

Cinta Paksa

Diketuknya tanah dengan kaki. Pedas rasanya setelah berkali-kali. Bisa bukan karena biasa, tapi karena terpaksa. Bagaimana rasanya memaksakan cinta?

Kalajengking melengking dengan bisanya. Membuat apa yang dipompa jantung tidak lagi sehat untuk dialirkan ke segela penjuru. Ke mana perginya cinta? Kata mereka, dia menawarkan racun. Dusta!

Tidak perlu kesepakatan dari manusia yang lain untuk menilai cinta kita. Tapi ikatan darah punya kuasa. Kita bisa apa? Besok kita mati saja. Bagaimana?

Jangan Lagi Kau Datang

Jangan lagi kau datang tanpa permisi. Aku sudah terlampau lelah mengubur pemakaman cintaku sendiri. Cari dia yang lain untuk kau jemput kematiannya. Untuk pertama, aku yakin dia tidak akan keberatan.

Jangan lagi kau datang tanpa diundang. Pesta hatiku tidak menerima tamu yang berniat menganggu. Hadirlah ke acara hati yang lain untuk kau tertawakan. Untuk permulaan, aku yakin hati itu tahan.

Jangan lagi kau datang tanpa salam. Telingaku sudah kebas mendengar suaramu bahkan sejak dari kejauhan. Bersalam lah untuk yang belum pernah mendengarkan bualanmu. Untuk awal, aku yakin suaramu merdu.

Lagi, jangan lagi kau datang.